Memahami Kontroversi AL-Ghazali dan Ibnu Sina dengan Konsep Ketuhanan Al-’Arobi

Review Konsep Ketuhanan dalam Buku Menembus Lintas Batas : 
Panorama Filsafat Islam, Karya Mulyadhi Kertanegara, 2002, Mizan, Bandung.

Oleh :  Subhan Agung
Review buku ini diilhami ketika saya mendengarkan diskusi dua orang mahasiswa –kayaknya aktivis gerakan-- di Perputakaan Pusat Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed), di mana salah satu di antara mereka bersikukuh mengeluarkan segudang argumennya untuk memojokkan Ibnu Sina—Bapak Ilmu Kedokteran Islam--. Kata-kata yang saya masih ingat dari satu di antara mereka adalah: ”eh, saya tadi baru baca buku terjemahan Imam Al-Ghazali lo, eh ternyata Ibnu Sina tokoh pemikir Islam itu, katanya sesat lo!, dia menafi’kan Tuhan dalam penciptaan alam semesta....” yang satu lagi jawab : ”masa sich, beliau kan pemikir besar Islam, enggak mungkin la sesat ?”.

Untuk memahami kontroversi dalam dialog di atas, saya teringat akan bukunya bapak Prof.DR.Mulyadhi Kertanegara tentang berbagai filosofi dari konsep ke-Tuhanan[1]- dari pendapatnya Syaikhul Akbar Ibn ’Arabi dalam Mystical Dimension of Islam (Annemarie Schimmel, 1975:267-268) yang membagi Tuhan dalam dua level (wajah) : Dzat dan sifat. Penjelasan ini sangatlah minim difahami oleh sebagian besar kaum muslim. 

Pertama, Tuhan berada pada level Dzat ketika kita merujuk Tuhan pada diri-Nya, terlepas dari kaitannya dengan apapun. Bagaimanapun juga, Tuhan dalam level ini tidak bisa kita kenal, karena manusia hanya bisa memahami sesuatu (’ain), sedangkan Tuhan pada level ini bukanlah sesuatu (ghair muta’ayyan). Jalan satu-satunya yang paling tepat untuk menggambarkan Tuhan pada level ini adalah Dia tidaklah menyerupai apapun (laisa kamitslihi saiy’). Pendekatan ini biasa dalam terminologi filsafat agama disebut teologi negatif (via negativa), di mana pada level ini tidak ada kata apapun yang mampu mendeskripsikan Tuhan, karena sudah bisa dipastikan tidak akan sama dengan-Nya. Bahkan pada level ini bisa dikatakan Tuhan tidak memiliki sifat apapun, karena tidak ada satu sifat pun yang bisa dinyatakan secara positif. Dari sini kita mulai memahami tentang pandangan para filosof muslim dan kaum mu’tazilah yang cenderung menghapus sifat apapun dari Tuhan (nafi-al shifat).

Kedua, Tuhan pada level nama atau sifat. Berbeda dengan level pertama, di mana pada level ini Tuhan telah kita kenal secara positif, karena Tuhan telah menjadi sesuatu (ta’ayyun). Nama-nama dan sifat-sifat Tuhan muncul, karena hubungan-Nya dengan alam, sedangkan  dalam konteks dirinya sendiri, Tuhan seperti dikatakan di atas, tidak memiliki sifat apa-apa. Diperkenalkannya sifat-sifat dan nama-nama Tuhan dalam kitab suci, tidak lain  dari upaya Tuhan untuk memperkenalkan diri-Nya kepada makhluk-Nya, terutama manusia. [1]

Bagi saya konsep Tuhan di atas sangat berguna dalam memahami konsep teologis maupun filosofis yang dikembangkan masing-masing teolog dan filasuf. Konsep Tuhan yang kita kenal pada umumnya adalah konsep teologis, seperti pada percakapan di atas ---yang disebarluaskan oleh Al-Ghazali--, yakni sifat-sifat tertentu dari Tuhan dipandang secara positif, misalnya hidup, kuasa, ilmu dan berkehendak[2]. Para mutakallimuun (ahli kalam) dan juga para sufi pada umumnya memiliki kesamaan, mereka membenarkan adanya sifat-sifat Tuhan di samping Dzat-Nya[3]. Sedangkan main-stream para filosof dan mu’tazilah menolaknya.

Untuk menggambarkan perbedaan pandangan tersebut, kita tinjau perdebatan Imam Al-Ghazali dan Ibnu Sina, dua tokoh yang bisa dijadikan representasi dari kelompok teolog da filosof Islam. Dalam kitab Tahafut al-Falasifah misalnya, Al-Ghazali mengkritik pandangan Ibnu Sina yang mengatakan bahwa ; ”penciptaan alam tidak didasarkan pada kehendak Tuhan, melainkan keniscayaan atau logis”[4].

Pandangan Ibnu Sina di atas menurut Imam Al-Ghazali, sebagai teolog, jelas-jelas bertentangan dengan Al-qur’an, yang berulang-ulang menyatakan bahwa Tuhan berkehendak, seperti misalnya dalam surah Yaasin ayat 82 : ”apabila Dia menghendaki sesuatu hanya (dengan) berkata kepadanya, ”Jadilah!”, maka terjadilah ia”. Hal ini menjelaskan bahwa penciptaan sesuatu, termasuk dunia ini, bersandar pada kehendak (iradah) Tuhan.

Sungguh sesuatu yang mengherankan ketika Ibnu Sina mempunyai konsep yang bertentangan dengan Al-Qur’an. Dugaan kita bahwa Ibnu Sina tidak mengetahui ayat-ayat tersebut dalam Al-Qur’an jelas sangat meleset, karena dalam banyak literatur Islam diinformasikan bahwa Ibnu Sina,--ilmuwan dan filosof yang disebut-sebut menjadi inspirator dunia Barat di bidang kedokteran lewat karya Al-Qonuun fi Al-thibb ini-- telah hafal Qur’an sejak usia sepuluh tahun dan telah menulis tafsir Al-Qur’an pada usia 25 tahun[5]. Sebagai upaya untuk memahami fenomena ini, kita gunakan perspektif filosofis Ibnu ’Arobi tentang konsep Tuhan, ternyata pemikiran Ibnu Sina ini bisa dijelaskan. Pertentangan keduanya disebabkan perbedaan level Tuhan yang mereka konsepsikan.

Harun Nasution dalam Teologi Islam (1997;20) menulis bahwa para Filosof, termasuk Ibnu Sina, ketika berbicara Tuhan —tidak berkehendak— yang mereka maksud adalah Tuhan dalam level Dzat, yang memang telah mereka bersihkan dari segala sifat yang positif. Bagi mereka, sebagaimana juga kaum Mu’tazilah, sifat-sifat Tuhan yang dijabarkan Al-Qur’an tidak bisa dikatakan berbeda dan terpisah dari Dzat-Nya, tetapi sama dan satu. Sedangkan Tuhan yang dikonsepsikan para teolog, termasuk Al-Ghazali –dianuti kaum Asy’ariyyah, dan kaum Muslimiin saat ini—pada umumnya pada level sifat dan nama. Oleh karena itu, konsep dari kedua pemikir itu tidak pernah bertemu sampai kapan pun perdebatannya.

Boleh dikatakan bahwa ketika Syaikhul Islam Al-Ghazali ketika mengkritik konsep Tuhan Ibnu Sina, beliau tidak bicara pada level yang sama dengan Ibnu Sina. Oleh karena itu, tidak ada ketersambungan jalan, karena beranjak dari dua konsepsi Tuhan yang berbeda, jadi persoalannya bukan siapa yang kurang faham tentang Islam dan sesat ke-Islamannya, karena keduanya pun pemikir yang sudah terpercaya, wara’ dan dikenal memiliki keluasan ilmu pengetahuan dan ke-Islaman. Dari perdebatan itu pula, sebenarnya tidak ada yang kalah, dan tidak ada yang menang, karena bagi mereka, sesuatu yang sudah menjadi sikap dan pemikirannya sudah berdasarkan olah pikir dan kecerdasan masing-masing yang dimaksudkan untuk menerangi kaum muslimin dalam memandang dan mengamalkan agamanya sendiri. Jika dalam kenyataannya pemikiran Al-Ghazali memenangkan pengaruh yang besar di dunia Islam saat ini, itu disebabkan oleh pemahaman mayoritas muslim yang cenderung bersifat teologis ketimbang filosofis.

”Qoolu subhaana kaala ’ilmalanaa illa ma ’allamtana innaka ’allimul hakiim”. Wallahu a’lam.
***

Subhan Agung, Kabid. Perkaderan HMI Cabang Purwokerto tahun 2003-2004, ketua umum HMI Cabang Purwokerto tahun 2004-2005. Sekarang Dosen Ilmu Politik Universitas Siliwangi Tasikmalaya.

[1]Untuk mencontohkan hal ini misalnya dalam hadits qudsi yang berbunyi : “ kuntu kanzan makhfiyyan” fa’ahbabtu an’u’raf, fakhalaqtu al-khalq fabi arafini”, maksudnya “ Tuhan berada dalam ‘persembunyiannya’, Dia ingin dikenal, dan arena itu Dia menciptakan alam raya ini, agar melalui alam ini manusia bisa mengenal-Nya.

[2]Biasanya di surau-surai atau diniyah waktu Sekolah dasar atau Ibtidaiyah diajarkan ada 20 sifat Allah atau bahkan ada yang mengatakannya 13 sifat, yang kesemuanya memiliki kandungan yang sama dari mulai wujud sampai hayyat.

[3]Memang ada sedikit perbedaan di mana kaum mutakallim melihat bahwa manusia berbeda dengan Tuhan, baik dari sudut sifat maupun Dzat, mereka hanya mengenal tanzih (perbedaan) dan tidak mengakui keserupaan (tasybih), sedangkan bagi para sufi manusia memiliki bukan saja tanzih, melainkan juga tasybih dari sudut sifat.

[4]Dalam Majid Fachry, Sejarah Filsafat Islam, hal.225.

[5]lihat ibid, hal. 129



[1] Mulyadhi Kertanegara, 2002, Menembus Lintas Batas : Panorama Filsafat Islam, Mizan, Bandung.

7 komentar:

  1. Keren banget artikelnya... :)

    ReplyDelete
  2. Kajian menarik, perlu ditindaklanjuti..

    ReplyDelete
  3. Salam kenal Kanda. Dari bahsanya saya sudah menbak kalau ini tulisan anak HMI. Eh, ternyata benar, dibawah saya temuakn identitasnya. Tulisan yang bagus. YAKUSA.

    ReplyDelete
  4. @ Juanda Rusli Latif. Terima kasih dinda atas kunjungannya..Semoga brmanfaat..

    ReplyDelete
  5. Salam silaturrahim dari pulau terpencil di Madura.. kawasan pegunungan yg gersang dan kesabaran di uji disini.. Salam juga ke temen2 Gusnana dan KPU Samarinda :)

    ReplyDelete