Review Buku

Menyelami Budaya Politik Lewat Etnografi :
Review Buku The Ethnographic Interview, James P. Sradley, 1979, Holt, Rinehart and Winston, New York.


Subhan Agung




Spreadley (1979, h.5) memulai definisi kebudayaan dengan mengadopsi konsepnya Marvin Harris yang menekankan ditampakkannya konsep kebudayaan dalam tingkah laku dengan kelompok-kelompok masyarakat tertentu, seperti adat atau cara hidup masyarakat. Lebih penting lagi adalah Spredley meyakini paham yang diambil dari Malinowski bahwa perlunya pembagian sudut pandang orang luar dan orang dalam, karena dalam etnografi tujuannya adalah untuk memahami sudut pandang masyarakat asli, maka pendefinisikan kebudayaan pun harus sesuai dengan refleksi tujuan di atas.
Lebih lanjut Spreadley memahami kebudayaan sebagai acquired knowledge that people use the interpet experience and generate social behavior (kebudayaan merujuk pada pengetahuan yang diperoleh dan digunakan manusia untuk menginterpretasikan pengalaman dan melahirkan tingkah laku sosial tertentu). Untuk memperkuat argumentasinya, Spredley mengedepankan satu contoh kasus yakni kejadian yang terjadi di bulan November 1973, di sebuah jalanan Hartford, Connecticut tentang insiden penyerangan oleh sekitar 75-100 orang terhadap tiga orang anggota polisi yang sedang berusaha menolong seorang wanita yang tiba-tiba terserang penyakit jantung. Segerombolan orang yang menyerang berasumsi, bahwa polisi tersebut memukul dan melukai wanita, sehingga atas nama kemanusiaan terhadap korban wanita tersebut, mereka dengan serta merta menyerang polisi. Di sisi lain justru polisi menggunakan kebudayaannya bahwa perempuan tersebut mengalami gangguan jantung, sehingga harus ditolong secepatnya misalnya dengan pijat jantung (Ibid, h. 5).
Kesalahpahaman yang  terjadi dalam cerita kasus di atas, memberikan pemahaman pada kita bahwa masing-masing pihak sebenarnya memiliki aturan budaya yang terperinci dan memiliki batasan yang berbeda sesuai dengan pengalamannya. Dari perbedaan pengalaman tersebut,manusia memiliki pemahaman kebudayaan yang berbeda-beda. Dari pemahaman tersebut manusia menginterpretasikannya dalam tingkah laku. Interpetasi tersebut bahkan dapat bertindak spontan pada saat-saat yang genting (mendesak) menurut persepsi budayanya seperti contoh kasus di atas.
Dari gagasan-gagasannya di bidang Antropologi yang dikuatkan oleh cerita-cerita kasus yang argumentatif, Spredley membatasi definisi kebudayaan sebagai pengetahuan yang dimiliki bersama, dimana kita tidak menghilangkan perhatian kita pada tingkah laku, adat, objek dan emosi. Oleh karena itu etnografer tidak hanya mengamati tingkah laku, tetapi lebih dari itu ia juga harus menyelidiki makna dari tingkah laku itu. Etnografer melihat artefak dan objek alam, tetapi lebih dari itu, dia juga menyelidiki makna yang diberikan oleh orang-orang terhadap objek itu. Etnografer mengamati dan mencatat berbagai kondisi emosional, tetapi lebih dari itu, dia juga menyelidiki makna rasa takut, cemas, marah dan berbagai perasaan lainnya (Ibid, h.6).
Dalam Ibid (1979: h.10), Spredley membuat suatu pemahaman yang revolusioner tentang bagaimana membuat sebuah kesimpulan budaya. Dengan merujuk pada ilmuwan-ilmuwan sebelum dan sezamannya semisal penelitiannya Richard Reed (1973), bahwa di manapun orang mempelajari kebudayaan tertentu, haruslah ia mengamati, mendengarkan dan membuat kesimpulan dari semua itu. Jadi semua kesimpulan tentang budaya yang dibuat oleh etnografer adalah hasil dari perpaduan unsur tadi yang kemudian dipersepsikan menjadi sebuah karya etnografi.
Dalam konteks di atas, peneliti sendiri berpandangan bahwa bagaimanapun juga karya Spradley tentang kebudayaan lebih memberikan warna baru dan pengembangan di bidang ilmu Antropologi, sekaligus juga Ilmu Politik dengan bidang kajian non prosedural[1]. Kajian yang disebutnya sebagai Antropologi Baru tersebut lebih menekankan pada upaya etnografer untuk benar-benar mampu mengenali dan membaca bahasa yang ditelitinya dan mampu mengidentifikasi suatu budaya politik tertentu dan pemanfaatan budaya tersebut di masyarakat.


Metode Etnografi
Melalui sintesis dari pemikiran ilmuwan pendahulunya --yang juga dijadikan dasar memahami kebudayaannya semisal Etnografi Modernnya Radclifffe-Brown dan B. Malinowski (1915-1925)--, Spredley juga mengkritik mereka lewat Etnografi Barunya. Spradley meyakini bahwa etnografi baru bukan hanya dapat diadaptasi sebagai metode penelitian dalam Antropologi, melainkan dapat digunakan secara luas pada ranah ilmu yang lain, termasuk Ilmu Politik. Berangkat dari pemahaman kebudayaan yang seperti inilah, penelitian ini kedepannya akan dibangun menjadi satu kajian etnografi yang unik dan menarik dalam khazanah budaya politik di Indonesia, terutama kepemimpinan politik adatnya dan diharapkan memberi sumbangsih referensi kajian bagi peneliti yang concern mendalami Antropologi Politik.
Menurut Spredley (1979, hh.46-54) ada lima syarat yang disarankan untuk memilih informan yang baik, yaitu: (1) thorough enculturation (enkulturasi penuh), (2) current involvement (keterlibatan langsung), (3) an unfamiliar cultural scene (suasana budaya yang tidak dikenal), (4) adequate time (waktu yang cukup), (5). non-analytic (non-analitis). Etnografer bekerja sama dengan informan untuk menghasilkan sebuah deskripsi kebudayaan. Informan merupakan sumber informasi, dengan kata lain mereka menjadi “guru” bagi seorang etnografer. Selain itu, informan dari luar komunitas yang dianggap mengetahui fokus penelitian ini yang diperlukan informasinya sebagai data tambahan.
Untuk menjadi pembanding yang dikemukakan Spradley, Endaswara (2008) mengungkapkan bahwa penentuan sampel pada penelitian kualitatif model etnografik ada lima jenis, yaitu: (1) seleksi sederhana, artinya seleksi hanya menggunakan satu kriteria saja, misalkan kriteria umur atau wilayah subyek; (2) seleksi komprehensif, artinya seleksi berdasarkan kasus, tahap, dan unsur yang relevan; (3) seleksi quota, seleksi apabila populasi besar jumlahnya, untuk itu populasi dijadikan beberapa kelompok misalnya menurut pekerjaan dan jenis kelamin; (4) seleksi menggunakan jaringan, seleksi menggunakan informasi dari salah satu warga pemilik budaya, dan (5) seleksi dengan perbandingan antarkasus, dilakukan dengan membandingkan kasus-kasus yang ada, sehingga diperoleh ciri-ciri tertentu, misalnya yang teladan dan memiliki pengalaman khas.
Dari lima cara tersebut, menurut saya model yang paling kontekstual dan sempurna adalah model seleksi komprehensif. Melalui seleksi secara komprehensif, peneliti akan mampu menentukan langkah yang tepat sejalan dengan apa yang diteliti. Lebih penting lagi, penentuan sampel dilakukan secara pragmatik dan bukan secara acak. Peneliti-peneliti budaya politik perlu tahu konteks masyarakat yang diteliti, tanpa membawa pra-konsep atau pra-duga atau teori yang dimilikinya. Peneliti etnografi  perlu mempertimbangkan aspek-aspek lain yang mungkin belum tercover dalam unsur-unsur budaya tersebut. Kecuali itu, peneliti juga perlu menggunakan skala prioritas. Artinya, unsur mana yang menjadi titik perhatian, itulah yang dikemukakan lebih dahulu, sedangkan unsur lain hanya penyerta.
Denzin dalam Mulyana (2001) mengemukakan bahwa untuk mewujudkan hubungan baik ini diperlukan ketrampilan, kepekaan dan seni. Selain ketrampilan menulis, beberapa taktik yang disarankan adalah taktik “mencuri-dengar” (earesdropping) dan taktik “pelacak” (tracer), yakni mengikuti seseorang dalam melakukan serangkaian kegiatan normalnya selama periode waktu tertentu. Sebuah catatan etnografis meliputi catatan lapangan, alat perekam gambar, artefak dan benda lain yang mendokumentasikan suasana budaya yang dipelajari.
Pengumpulan data yang diutamakan dalam buku ini lebih memfokuskan pada wawancara etnografis merupakan jenis peristiwa percakapan (speech event) yang khusus. Tiga unsur yang penting dalam wawancara etnografis adalah tujuan yang eksplisit, penjelasan, dan pertanyaannya yang bersifat etnografis (Spreadly 1997, h.71). Sebenarnya, selain wawancara etnografik, Spradley juga menulis tentang pentingnya observasi. Tulisan lengkapnya tentang hal ini terdapat dalam buku lainnya the Partisipant Observation. Model ini mengharuskan peneliti menyelami makna budaya lewat partisipasi lewat kegiatan keseharian objek penelitian.
Lofland dan Lofland dalam Marsh dan Stoker (2002, hh.197-198) mengemukakan bahwa model observasi etnografi mengharuskan peneliti meleburkan diri dalam setting sosial mereka, mengamati orang-orang dalam lingkungan alami mereka dan ikut serta dalam aktivitas mereka. Dari penelitian ini, peneliti menulis catatan lapangan mendalam. Hal ini akan mungkin jika ada interaksi baik dalam waktu yang cukup.


Tema Budaya Politik dan Analisis Etnografi
Analisis data dilakukan untuk menyajikan data-data dari hasil penelitian dalam bentuk deskriptif yang dimodifikasi dengan ekplorasi kasus secara sistematis berdasarkan sifat data yang ada. Dalam hal ini, analisis data kualitatif digunakan untuk membuat satu rangkaian gambaran dan interpretasi dari subjek penelitian. Untuk itu, hasil observasi dan participant observation serta hasil wawancara sangat penting untuk disajikan dalam analisis lembaran deskripsi tersebut.
Analisis data dilakukan dengan cara mendeskripsikan misalnya bagaimana legitimasi pemimpin terbentuk, yang mencakup cara dan proses masyarakat menunjuk pemimpin. Jawaban dan penjelasan pada bagian diatas akan mendukung penjelasan berikutnya misalnya mengenai relasi kuasa dalam pembagian peran antar pemimpin. Kemudian penjelasan ini sekaligus membangun argumen dalam pembahasan selanjutnya tentang peran dan pengaruh pemimpin adat dalam mekanisme manajemen konflik dan distribusi sumber daya. Dalam analisis data, tinjauan konseptual digunakan sebagai pembanding analisa berdasarkan teori-teori atau pengetahuan hasil penelitian yang terkait dengan kenyataan (data) di lapangan, sehingga laporan menjadi sebuah deskripsi yang sistematis, logis dan eksploratif.
Spradley memperkenalkan model baru kegiatan analisis dalam rangkaian kegiatan pengumpulan data yang berakselerasi dengan analisis data lewat model penelitian Maju Bertahap (The Developmental Research Sequence) yang diuraikan Spreadley (1979, hh.41-217). Model ini sesuai dengan karakter induktif dalam etnografi, maka urutan setiap langkah tidak baku dalam pelaksanaannya. Jika sudah mencapai langkah tertentu, apabila diperlukan boleh kembali kelangkah sebelumnya, untuk mencapai hasil sempurna. Spredley sebenarnya mengungkapkan tahap-tahap dalam penelitian etnografi yang mencakup pada dua belas tahapan. Beberapa yang penulis sebutkan di bawah ini diadopsi dari dua belas tahap tersebut tetapi langsung pada saat pengumpulan data dan analisis yang akseleratif di antara keduanya, sehingga walaupun sudah mengambil data, memungkin ke lapangan kembali jika dianggap perlu. Langkah-langkah tersebut adalah :
Langkah pertama,  analisis wawancara etnografis dan catatan lapangan. Analisis dikaitkan dengan simbol dan makna yang disampaikan informan. Tugas peneliti adalah memberi sandi simbol-simbol budaya serta mengidentifikasikan aturan-aturan penyandian dan mendasari. Langkah kedua, membuat analisis domain. Peneliti membuat istilah pencakup dari apa yang dinyatakan informan. Istilah tersebut seharusnya memiliki hubungan semantis yang jelas. Contoh domain, cara-cara untuk melakukan pendekatan yang berasal dari pertanyaan: “apa saja cara untuk melakukan pendekatan”. Langkah ketiga, mengajukan pertanyaan struktural. Yakni, pertanyaan untuk melengkapi pertanyaan deskriptif. Misalnya, orang tuli menggunakan beberapa cara berkomunikasi, apa saja itu?. Langkah keempat, membuat analisis taksonomik. Taksonomi adalah upaya pemfokusan pertanyaan yang telah diajukan. Ada lima langkah penting membuat taksonomi, yaitu: (a) pilih sebuah domain analisis taksonomi, misalkan jenis penghuni kampung adat Kuta (kepala suku, kuncen, pengurus Dewan Kemakmuran Mesjid, tokoh masyarakat dan lainnya, (b) identifikasi kerangka substitusi yang tepat untuk analisis, (c) cari subset di antara beberapa istilah tercakup, misalkan kepala Adat: penjaga adat, (d) cari domain yang lebih besar, (f) buatlah taksonomi sementara. Langkah kelima, mengajukan pertanyaan kontras. Kita bisa mengajukan pertanyaan yang kontras untuk mencari makna yang berbeda, seperti wanita, gadis, perempuan, orang dewasa, simpanan, dan sebagainya. Langkah keenam, membuat analisis komponen. Analisis komponen sebaiknya dilakukan ketika dan setelah di lapangan. Hal ini untuk menghindari manakala ada hal-hal yang masih perlu ditambah, segera dilakukan wawancara ulang kepada informan. Langkah ketujuh, menemukan tema-tema budaya politik.
Penentuan tema budaya politik dalam langkah terakhir di atas, boleh dikatakan merupakan puncak analisis etnografi. Keberhasilan seorang penelti dalam menciptakan tema budaya, berarti keberhasilan dalam penelitian. Tentu saja, akan lebih baik justru peneliti mampu mengungkap tema-tema yang orisinal, dan bukan tema-tema yang telah banyak dikemukakan peneliti sebelumnya. Langkah selanjutnya yang juga merupakan karya nyata seorang ilmuwan budaya politik adalah menulis etnografi politik. Menulis etnografi sebaiknya dilakukan secara deskriftif-eksplanatif, dengan bahasa yang cair dan lancar. Jika kemungkinan harus berceritera tentang suatu fenomena, sebaiknya dilukiskan yang enak dan tidak membosankan pembaca.


Referensi Pembanding


Endraswara, Suwardi 2008, Studi Etnografi dan Folklore, UGM Press, Yogyakarta.

Marsh, David and Stoker, 2002, Theory and Methode in Political Science : Second Edition, Palgrave, Macmillan.

Mulyana, Deddy 2001. Metodologi Penelitian Kualitatif: Paradigma Baru Ilmu Komunikasi dan Ilmu Sosial Lainnya, PT Remaja Rosdakarya, Bandung



[1] Kajian politik yang non prosedural mulai marak di zaman pasca Kolonial dengan munculnya tren kajian politik yang tidak hanya terpaku membahas  politik prosedural  seperti demokrasi model Scumpeterian, namun juga mengkaji yang lebih umum (politik kehidupan) semisal Derrida dengan Politik Dekontruksi dan Bourdieu dengan Habitus Politiknya. Oleh karena itu sumbangsih dari kajian para Antropolog menjadi jembatan dalam mengkaji politik kehidupan, yang kajiannya menyangkut perilaku politik  manusia.

0 komentar:

Post a Comment