Showing posts with label Pemikiran Politik. Show all posts
Showing posts with label Pemikiran Politik. Show all posts

Good Governance, Malaikat ataukah Setan ?

Oleh : Taufik Nurohman

Saya berusaha menulis tulisan singkat ini dengan sexy untuk merangsang pembaca untuk memperdebatkan kembali konsep good governance. Bahwa konsep “good” yang menyertai “governance” masih dapat kita pertanyakan. Terlebih ketika kita arahkan konsep “good” tersebut pada pertanyaan “untuk siapa?” dan bagaimana jika kita melihat kondisi sebaliknya bukan “good” melainkan “bad”.

Mao Tse Tung : Tokoh Revolusioner China

 Oleh : Wiwi Widiasuti., S.IP[1

Biografi Singkat
Mao Tse Tung lahir di Shao Shan, Provinsi Hunan pada tanggal 23 Desember 1893. Ia merupakan anak laki-laki dari keluarga petani yang sangat sederhana. Masa kanak-kanak dan remajanya dihabiskan di Shao Shan San baru pada usia 17 tahun ia melanjutkan sekolah di Chang Sha, ibu kota Provinsi Hunan, dimana pada tahun 1911 di Cina Tengah terjadi revolusi besar-besaran yang dipimpin oleh Sun Yat Sen untuk meruntuhkan Kekaisaran.

Mao Banyak mengenal tentang Darwin, John Stuart Mill dan Rousseau dari buku-buku yang dibacanya di perpustakaan, terlebih ia membiayai hidupnya dengan bekerja pada Hunan Provincial Library. Selanjutnya pada tahun 1918 Mao pergi ke Peking (sekarang Beijing), ibu kota Cina untuk bekerja di sebuah perpustakan Universitas dengan gaji rendah. Lingkungan inilah yang mempertemukan Mao dengan orang-orang beraliran Marxis Radikal seperti Li Ta Chao seorang ketua perpustakaan dan Profesor Chen Tu Tsui. Profesor Chen Tu Tsui inilah yang nantinya dikenal sebagai pendiri Partai Komunis Cina.

Mao kembali ke Chang Sha untuk terlibat dalam dunia pendidikan dan menjadi seorang kepala sekolah dasar. Disamping itu Mao juga banyak membantu mendirikan Partai Komunis di Chang Sha. Pada tahun 1921 Mao terpilih menjadi Sekretaris Umum Partai Komunis Cina di Hunan dalam kongres yang diselenggarakan di Shanghai. Sesuai dengan ideologinya yang berkiblat ke Sovyet, pada tahun 1931-1934  Mao ikut mendirikan Partai Sovyet Sosialis Republik (CSSR) di Cina bagian tenggara dan Mao terpilih menjadi pemimpinnya.

Hal yang sangat heroik dilakukan oleh Mao adalah Long March pada tahun 1934 dari Cina bagian tenggara sampai ke Cina Barat laut. Hal ini mendapatkan  simpati yang besar dari masyarakat petani di pedesaan. Padahal saat itu Cina masih dikuasai oleh kekuatan Nasionalis (Kuomintang) pimpinan Chiang Kai Sek. Tetapi ketika terjadi perang Cina – Jepang pada tahun 1937, kekuatan komunis dan nasionalis menjadi bersatu melawan Jepang. Pasca perang Cina - Jepang ini terjadi perebutan kekuasan antara kaum Komunis dan Kaum Nasionalis yang berakibat kaum Nasionalis nenyingkir ke kepulauan Taiwan. Partai Komunis Cina sebagai partai yang berkuasa pada tahun 1949 mendirikan Republik Rakyat Cina dan menjadikan Mao Tse Tung sebagai presidennya.

Sepanjang hidupnya Mao memiliki tiga istri yaitu Yang Kaihui sebagai istre pertama, Ho Zuchen sebagai istri kedua dan Lang Ping yang lebih dikenal sebagai Jiang Qing sebagai istri ketiga.

Pemikiran Politik  
Pemikiran politik Mao Tse Tung sangat dipengaruhi oleh pemikiran Karl Marx dan Lenin. Sebagai penganut ideologi komunis, Mao tetap mendasarkan pemikirannya pada perjuangan kelas. Pada masyarakat Cina yang baru saja lepas dari pemerintahan imperialis selama berabad-abad sangat sulit mewujudkan cita-cita komunisme karena meskipun sudah banyak kaum terdidik yang modern tetapi budaya imperialis masih banyak melekat sehingga kaum modern ini justru menciptakan kelas tersendiri di Cina. Dalam istilah Mao, keadaan ini disebut sebagai kontradiksi. Kontradiksi inilah yang akan banyak mempengaruhi pelaksanaan pembangunan dan perwujudan kehidupan tanpa kelas di Cina.

Istilah kontradiksi sendiri diadopsi Mao dan Lenin yang mengatakan bahwa dialektika adalah studi tentang kontradiksi dalam hakekat itu sendiri. Ditambahkan oleh Mao bahwa kontradiksi adalah hukum kesatuan dari hal-hal yang berlawanan dan merupakan hukum terpokok dari dialektika materialis. Dalam konteks budaya Cina yang lekat dengan feodalisme yang berakar sejak masa kekaisaran menurutnya sangat perlu dilakukan perubahan untuk masyarakat komunis.

Pemikiran Mao yang lain dikenal dengan dialektika. Dialektika materialis ini mengajarkan kita untuk melihat realitas internal, karena segala hal yang berkembang berasal dari realitas internal itu sendiri. Oleh karena itu masyarakat Cina harus pandai-pandai mempersatukan realitas internal untuk kepentingan pembangunan.

Terwujudnya masyarakat modern tanpa kelas menurut Mao adalah bagaimana masyarakat memandang realitas internal yang ada serta bagaimana pandangan masyarakat tentang realitas itu dapat dipersatukan. Demikian pula dengan peran negara untuk mengatasi adanya kontradiksi dalam masyarakat.

Negara ideal dalam pemikiran Mao adalah negara diktator demokrasi rakyat yang dipimpin oleh kelas buruh atas persekutuan buruh dengan tani. Sedangkan fungsi negara menurut Mao adalah sebagai penindas kelas dan kaum reaksioner serta kelas penghisap yang melawan revolusi sosialis, memecahkan kontradiksi dalam negeri, memelihara ketertiban dan melindungi kepentingan rakyat serta membela negara dari agresi luar negeri terutama kapitalis. Untuk itulah Mao menggunakan istilah Sentralisme Demokrat sebagai sarana untuk mengatasi realitas internalnya.

Sentralisme Demokrat bermakna bagi rakyat untuk tetap memiliki hak dan kebebasannya sebagai warga negara termasuk bidang politik secara demokratis. Namun demokrasi yang dimaksud disini adalah demokrasi yang terpusat, hal ini mengandung tujuan agar rakyat tidak menggunakan kebebasannya secara sewenang-wenang yang akan berakibat merugikan kebebasan orang lain dan lebih jauh lagi berakibat pada pecahnya persatuan dan kesatuan bangsa. Oleh karena itu, demokrasi yang terpusat diyakini Mao sebagai jalan yang terbaik bagi pembangunan di Cina.

Implementasi
Banyak yang menilai kebijakan-kebijakan pembangunan Mao merupakan kebijakan yang sangat utopis yang ditandai dengan adanya komune rakyat. Impian ini menjadi obsesi bagi Mao dimana komune menjadi satuan dasar baru dari suatu masyarakat komunis yang merupakan prasarana kelembangaan yang mampu menjembatani kesenjangan yang ada baik itu kesenjangan antara desa dengan kota, buruh, petani dengan kaum intelekual.

Menyadari realitas internal dan pengalaman pahit masa lalu tentang gagalnya perjuangan kaum buruh dan kehebatan pemberontakan kaum petani pada bulan mei 1925 membuat Mao berpikir bahwa kaum petani merupakan kekuatan paling besar dan revolusioner yang dapat digunakan untuk mewujudkan revolusi sosialis di Cina, sehingga dalam perjuangannya komunis di Cina memiliki perbedaan karakteristik dari komunis di negara asalnya, meski tetap berpegang teguh pada Marxisme dan Leninisme. Dalam kepemimpinannya Mao melakukan strategi rekonstruksi tehadap pemikiran dasar gerakan komunis Cina yang berbasis pada petani yaitu mengutamakan petani sebagai kekuatan pokok revolusi, mementingkan pembentukan tentara komunis secara tersendiri untuk melindungi keutuhan hidup partai, menjadikan daerah pedesaan dimana sebagian besar petani tinggal sebagai basis perjuangan. Disamping rekonstruksi, Mao juga melakukan konsolidasi untuk dapat menghilangkan hubungan produksi yang eksploitatif. Salah satunya dengan melakukan sistem pembaharuan kepemilikan tanah (landreform) yang dinilai perlu untuk membangun hubungan produksi yang egaliter bagi pembentukan pola pertanian kolektif. Kampanye landreform ini sekaligus untuk menghapus kelas tuan tanah.

Dalam hal pembangunan, Mao menetapkan sistem pembangunan lima tahun (Pelita) sebagai strategi untuk melihat perkembangan masyarakat dan perkembangan yang terjadi di dalam partainya. Pada Pelita I banyak diadopsi model-model pembangunan Soviet yang dikenal sebagai Stalinist Strategy yang bertujuan mencapai laju pertumbuhan ekonomi yang tinggi dengan penekanan pada sektor industri dengan produksi yang padat modal. Hal ini tidak bisa dipisahkan dari peranan Deng Xiaoping dan Liu Shaoqi sebagai perumus kebijakan pada masa pemerintahan Mao. Pada tahun 1957 mao mencetuskan kebijakan Lompatan Jauh Ke Muka (Da Yuejin) dengan pertimbangan bahwa pembanguna model Sovyet hanya akan membawa masyarakat pada revisi ideologi. Sedangkan Mao lebih berambisi untuk menyongsong momentum milenium. Untuk itu Lompatan Jauh Ke Muka (Da Yuejin) memiliki target yang sangat tinggi diantaranya mengejar produksi industri berat Inggris dalam waktu 15 tahun, mendahului kemajuan Sovyet dalam pembangunan sosialis berencana dengan mengandalkan semangat Maoisme dan faktor tenaga kerja yang besar, menyamai produksi besi baja Amerika dalam waktu 8 tahun. Untuk melaksanakannya Mao merasa perlu mementuk Komune Rakyat yang merupakan kesatuan usaha mandiri yang dapat memenuhi kebutuhan konsumsi, produksi dan investasi masyarakat. Pelaksanaan Da Yuejin ditandai oleh pengerahan tenaga kerja secara besar-besaran dan pengawasan partai yang ketat, pengurangan insentif material, penghentian bentuk-bentuk usaha swasta, pengarahan politik dan usaha pencapaian target yang irasional dari produksi sektor pertanian maupun industri.

Pelaksanaan kebijakan Da Yuejin ini tidaklah berjalan dengan lancar, bahkan hasilnya bertolak belakang dengan yang diinginkan. Para petani merasa dipaksa bergabung dengan komune-komune yang membuat kehidupan keluarganya menjadi miskin. Dengan jam kerja yang padat dan upah yang kecil, pelayanan kesejahteraan yang tidak memadai serta tidak ada lagi kepemilikan pribadi atas rumah tanah, kebun maupun ternak. Dengan kesejahteraan yang tidak memadai sangat tidak mungkin bagi rakyat untuk menghasilkan produktifitas yang tinggi. Kebijakan ini membawa dampak buruk bagi perekonomian Cina yang sebelumnya sudah membaik dalam Pelita I dengan pertumbuhan yang dinamis dari sektor pertanian maupun industri.

Kebijakan Mao yang lain adalah Revolusi Kebudayaan (1966 – 1969). Revolusi kebudaaan adalah konsep pembangunan yang mendasarkan diri pada mobilisasi politik, bukan pada prinsip teknokratisme. Mobilisasi politik inipun masih mendasarkan pada dialektika materialis yang mengutamakan transformasi individu sebagai alat dan tujuan pembangunan sosialis. Menurutnya pembangunan ekonomi akan mencapai sasaran apabila dilakukan secara merata dan seimbang sehingga seluruh anggota masyarakat dapat mengambil keuntungan bersama.

Revolusi Kebudayaan meliputi dua bidang utama yaitu pembaharuan manajemen industri dan sistem pendidikan. Dalam bidang manajemen industri dilakukan upaya partisipasi buruh dalam bidang administrasi serta partisipasi kader dalam kerja buruh (liang san), partisipasi masa secara positif dalam produksi (yi gai) dan aliansi segitiga antara kader, pekerja, dan teknisi dalam mendukung administrasi publik. Dalam bidang pendidikan Revolusi Kebudayaan diarahkan untuk mengkombinasikan dan menserasikan perkembangan ekonomi dengan revolusi sosial. Hal ini dilakukan untuk menciptakan kondisi masyarakat agar tidak tergantung pada teknokrat yang mengabdi bagi kepentingan sendiri. Strategi yang dilakukan adalah dengan mengintensifkan pendidikan ideologi agar tercipta kesadaran politik. Buku merah yang berisi pemikiran politik Mao menjadi bacaan wajib bagi masyarakat. Sementara itu integrasi antara teori dan praktek dimaksudkan agar sistem pendidikan lebih responsif terhadap kebutuhan langsung produksi di daerah pedesaan. Revolusi ini mengalami berbagai kendala, liang san sangat sulit terealisasi karena bidang keahlian buruh dan kader sangat jauh berbeda. Sedangkan gerakan pembaharuan pendidikan Mao  lebih banyak dinilai sebagai sarana melanggengkan karismanya. Revolusi Kebudayaan sangat mempengaruhi kondisi ekonomi Cina. Kemerosotan ekonomi dan mutu pendidikan menjadi masalah utama pasca gerakan ini. Namun dari segi pemerataan (egalitarianisme strategy) kebijakan pembangunan Mao membuat Cina mengalami kemajuan yang mengagumkan dibandingkan dengan negara berkembang lain pada masa itu

Referensi :
Raharjo, Dawam. Esai-Esai Ekonomi Politik. LP3ES. Jakarta.1983
Tjeng, Lie Tek. RRC Sebagai Kekuatan Asia. LRKN-LIPI. 1982
Wang, James CF. Contemporary Chinese Politics An Introduction. Prentice Hall Inc. New Jersey. 1980
Tse Tung, Mao. Empat Karya Filsafat. FuspAd. Yogyakarta. 2001
Nainggolan, Poltak Partogi. Reformasi Ekonomi RRC Era Deng Xiaoping. Pustaka Sinar Harapan. 1995

[1] Staf Pengajar Ilmu Politik FISIP Universitas Siliwangi

Sumber Gambar : MADWAXNIN

Percikan Pemikiran Negara dan Masyarakat Sipil

Pemikiran-pemikiran mengenai civil society di bawah ini diambil dari berbagai ilmuwan politik, baik dari Indonesia maupun dari mancanegara. Silakan anda buka aplikasi scribd di bawah ini untuk melihat atau mendownloadnya. Pemikiran-pemikiran tersebut disajikan hanya dalam pointer-pointer saja. Selamat membaca!.



Pemikiran tentang Masyarakat Sipil

Hegemoni dan Kontra Hegemoni : Belajar dari Pemikiran Gramsci

 Oleh : 
Subhan Agung[1] 


Konsep hegemoni mulai tenar dalam diskursus negara modern ketika ilmuwan politik asal Italia, Anthonio Gramsci mengungkap tentang konsepsi negara dan hegemoni. Menurut Patria dan Arief (1999, hh.113-114) konsep hegemoni dari Gramsci lahir sebenarnya untuk menjawab dua permasalahan utama dalam konteks yang terkait dengan proses penciptaan sebuah revolusi di Italia, yang sekaligus merupakan tantangan atas penafsiran Marxis setelah kematian Marx, Engels, Lenin dan Stalin. Permasalahan tersebut yaitu : pertama, mengapa  terjadi kesenjangan antara teori Marxis dengan praktek politik kelas ploretariat. Dengan kata lain mengapa kelas ploretariat ”Barat” tidak dapat mengambil ”jalan yang diridhai Marx” yakni Jalan Bolsheviks seperti di Rusia misalnya, untuk mengakhiri kekuasaan kelas borjuis dalam sistem kapitalisme yang cukup matang. Kedua, sarana dan strategi apakah yang dapat dilakukan untuk menutup kesenjangan tersebut. Diletakkan dalam konteks krisis inilah sebenarnya pemikiran Gramsci tentang hegemoni lahir.
Menurut Robert Bocock (1986) dalam (Ibid, h.116) mengungkap di mana dalam banyak kepustakaan Marxis menunjukkan, bahwa konsep hegemoni secara historis pertama kali diproduksi di Rusia pada tahun 1880 oleh seorang Marxis Rusia, Plekanov. Konsep ini dibangunnya sebagai bagian dari strategi untuk menjatuhkan pemerintahan Tsar. Hegemoni dalam definisi ini mengacu pada pengertian kepemimpinan hegemonic-ploretariat serta perwakilan-perwakilan politik mereka serta aliansi-aliansi dengan kelompok lain seperti kaum borjuis kritis, petani dan intelektual yang berkeinginan sama untuk menjatuhkan pemerintahan Tsar.
Konsep hegemoni Gramsci (2001, hh.57-58) sebenarnya dapat dirunut melalui penjelasannya tentang Basis dari Supremasi Kelas, di mana supremasi kelompok di masyarakat menunjukkan eksistensinya melalui dua cara, yakni lewat dominasi (dominance) dan kepemimpinan intelektual(direction). Kedua kelompok ini akan terus-menerus saling menundukkan. Biasanya kelompok sosial yang satu mendominasi kelompok-kelompok oposisi lewat berbagai cara, termasuk kekuatan senjata untuk melumpuhkannya. Di satu sisi, kelompok-kelompok sosial yang dipimpin oleh para intelek akan berusaha melawan dominasi rezim lewat mobilisasi kelompok kerabat, mahasiswa dan stake holder basis masyarakat lainnya. Grmasci mengisyaratkan satu hegemoni bisa hancur dan digantikan oleh kelompok sosial lainnya yang memiliki posisi yang dominan, sehingga menghasilkan rezim baru (rulling elite).
Penjelasan Gramsci tentang supremasi kelas, seperti di atas menurut Nezar dan Andi (Ibid :118) menunjukkan suatu totalitas yang didukung oleh kesatuan dua konsep yakni direction dan dominance. Hubungan kedua konsep ini menyiratkan tiga hal yakni : (1) dominasi dijalankan atas seluruh musuh dan kepemimpinan dilakukan kepada segenap sekutu. (2) kepemimpinan adalah suatu pra-kondisi untuk menundukkan aparatus negara (kekuasaan pemerintahan) dan (3) sekali kekuasaan negara bisa direnggut, dua aspek supremasi kelas ini baik pengarahan ataupun dominasi akan terus berlanjut.
Analisis Gramsci di atas berusaha memberikan penjelasan bahwa sebenarnya semua kelas sosial di masyarakat memiliki kecenderungan untuk menghegemoni, ketika memiliki kemampuan untuk mendominasi. Dominasi adalah kunci awal dalam proses hegemoni. Di antara sekian potensi dominasi, negara adalah institusi yang paling subur dalam hal dominasi, sehingga wajar apabila negara memiliki kecenderungan tinggi untuk menghegemoni masyarakatnya.
Dalam konteks pengakuan dirinya sebagai seorang revolusioner yang tugasnya menciptakan revolusi sebagai suatu alternatif strategi bagi ”kemegahan” perjuangan sosialis, khususnya Italia dan Eropa umumnya, maka Gramsci dalam Hendarto (1993, hh.82-84) mengemukakan tiga tingkatan hegemoni yaitu : pertama, hegemoni integral, yakni hegemoni yang ditandai dengan afiliasi massa yang mendekati totalitas. Masyarakat menunjukkan tingkat kesatuan moral dan intelektual yang kokoh. Ini tampak dalam hubungan organis antara pemerintah dengan yang diperintah. Hubungan tersebut tidak diliputi dengan kontradiksi dan antagonisme, baik secara sosial maupun etis. Contoh untuk hal ini adalah Prancis setelah Revolusi tahun 1879. Kedua, hegemoni yang merosot (decadent hegemony), yakni kemerosotan yang disebabkan oleh lemahnya ”mentalitas” massa yang tidak sungguh-sungguh selaras dengan pemikiran yang dominan dari subjek hegemoni, walaupun sistem yang ada telah mencapai kebutuhan dan sasarannya. Karena itu, integrasi budaya maupun politik mudah runtuh. Ketiga, hegemoni minimum (minimal hegemony), merupakan bentuk hegemoni yang paling rendah, dibanding  dua bentuk di atas. Situasi inilah yang terjadi di Italia dari periode unifikasi sampai pertengahan abad ini. Hegemoni bersandar pada kesatuan ideologis antara elit ekonomis, politis dan intelektual yang berlangsung bersamaan dengan keengganan terhadap setiap campur tangan massa dalam hidup bernegara.

Counter Hegemony
Konsep counter hegemony merupakan salah satu konsep tentang Kritik Rakyat atas Penguasa yang dimotori oleh ilmuwan asal Italia, Antonio Gramsci sebagai jawaban atas proses hegemoni kelompok dominan. Bagi Gramsci (op.cit, 44-45), realitas sosial yang ditunjukkan dengan adanya karakter kapitalistik yang eksploitatif, demikian juga dengan otoritaritarianisme rezim politik Bennito Mussolini, ternyata tidak kunjung memunculkan revolusi sosial, seperti yang dianggarkan oleh Marxisme Klasik. Bahkan justru yang muncul adalah gejala go to silent para revolusioner.
Gejala diamnya para revolusioner (buruh dan kaum proletar) disebabkan oleh seperangkat kepentingan politik (political interest) yang menghegemoni yang diselundupkan oleh massa rakyat yang tertindas. Lebih ironis, massa buruh yang ada cenderung menjadi kelompok sosial yang “tabah akan penderitaan”. Dalam kondisi seperti inilah kalangan cendekiawan-transformatif yang ia namakan intelektual organik sangat diperlukan.
Analisis Gramsci lebih cenderung pada hegemoni akan selalu identik dengan penyusunan kekuasaan. Dalam Selection from Prison Notebooks (SPN), sebenarnya Gramsci mempercayai teoritisasi dan realisasi hegemoni menurut Lenin, yang sangat membenci Taylorisme, di mana Taylorisme merupakan sebuah praktek teknokratisme dan koorporatisme yang menjadi eksperimen kapitalis untuk mendisiplinkan para pekerja melalui spesialisasi mekanis dengan metode yang mengutamakan efisiensi.
Analisis Gramsci (Ibid, hh.43-44) dipertajam dengan mendudukkan posisi masyarakat sipil dalam sebuah struktur masyarakat. Di mana masyarakat sipil itu pada dasarnya sebagai suprastruktur. Jika Marx meletakkan dengan gamblang negara di bawah masyarakat sipil, dan dengan demikian masyarakat sipil  yang menentukan negara dan membentuk organisasi dan tujuan dari negara dalam lingkup hubungan produksi, maka berbeda dengan para Marxis lainnya, meski sama-sama merujuk pada GWF. Hegel (1770-1831), Gramsci justru menunjukkan bahwa masyarakat sipil adalah bukan sebagai -bukan totalitas hubungan-hubungan ekonomi-, basic structure, melainkan sebagai superstruktur. Dengan demikian masyarakat sipil, yang salah satunya kalangan intelektual tidak berada pada moment struktur, tetapi sebagai superstruktur.
Penjelasan-penjelasan Gramsci tentang keterlibatan secara semestinya kaum intelektual sebagai pengawal hegemoni, boleh jadi merupakan sumbangan terpenting Gramsci dalam Selection from Prison Notebooks. Gramsci membagi kepemimpinan hegemonik dalam lingkup moral dan intelektual. Bahkan ia mengatakan bahawa peran intektual dalam transformasi adalah dasar dari superstruktur yang ada, yang menampilkan fungsi organisasional dan konektif. Para intektual harus berdiri pada dua wilayah; pertama, intektual teori (tradisional), dan kedua, intektual yang mampu menghubungkannya dengan realitas nyata sosial (intelektual-organik). Intelektual-organik dengan demikian adalah intelektual yang secara sadar dan mampu menghubungkan teori dan realitas sosial yang ada dan ia bergabung dalam kelompok-kelompok revolusiner untuk mensupport dan mengcounter hegemony pada sebuah transformasi sosial yang direncanakan, walaupun memiliki resiko yang sangat besar dan membahayakan.
Dalam konteks demokrasi di Indonesia, kepemimpinan intektual ini jelas sangat diperlukan sebagai penyeimbang rezim dalam penyelenggaraan pemerintahannya. Kontrol atas kemungkinan hegemonisasi setiap rezim yang kontraproduktif dengan tujuan negara dan jaminan kesejahteraan, hak politik dan hak asasi warganya. Indonesia memiliki sejarah kepemimpinan intelektual yang sudah teruji. Hampir setiap gejala politik di negeri ini selalu mendapat kawalan dan sentuhan para intektual yang tanpa pamrih mewujudkan keadilan atas kesewenang-wenangan negara. Kepemimpinan intelektual seperti itulah yang akan selalu siap ditunggu masyarakat Indonesia sekarang dan ke depannya untuk terus-menerus mengawal kecendrungan kekuasaan yang hegemonik. Semoga


Reference List

Gramsci, Antonio 2001, Catatan-Catatan Politik, Pustaka Promethea, Surabaya.
Hendarto, Heru, 1993, Mengenal Konsep Hegemoni Gramsci : dalam Diskursus Kemasyarakatan dan Kemanusiaan, Gramedia, Jakarta.

Sumber Gambar

http://www.infed.org/thinkers/et-gram.htm


[1] Staf Pengajar Ilmu Politik FISIP Universitas Siliwangi, Tasikmalaya.

Monumen Pemikiran Politik Yunani

Monumen Pemikiran Politik Yunani
Oleh : Wiwi Widiastuti[1]

Ketiga pemikir Yunani yaitu Socrates, Plato dan Aristoteles adalah tokoh yang sangat penting dalam memahami ckal bakal pemikiran politik negara berkembang. ketiga tokoh ini meskipun hidup dalam satu masa, namun ketiganya memiliki karakteristik pemikiran yang berbeda. berikut ini akan saya uraikan sedikit tentang pemikiran ketiga tokoh Yunani di atas.

Yang pertama Socrates ( 470 SM - 399 SM ) adalah filsuf dari Athena, Yunani dan merupakan salah satu figur tradisi filosofis Barat yang paling penting. Socrates lahir di Athena, dan merupakan generasi pertama dari tiga ahli filsafat besar dari Yunani, yaitu Socrates, Plato dan Aristoteles. Socrates adalah yang mengajar (guru) Plato, dan Plato pada gilirannya juga mengajar Aristoteles. Socrates diperkirakan berprofesi sebagai seorang ahli bangunan (stone mason) untuk mencukupi hidupnya. Penampilan fisiknya pendek dan tidak tampan, akan tetapi karena pesona, karakter dan kepandaiannya ia dapat membuat para aristokrat muda Athena saat itu untuk membentuk kelompok yang belajar kepadanya. Metode pembelajaran Socrates bukanlah dengan cara menjelaskan, melainkan dengan cara mengajukan pertanyaan, menunjukkan kesalahan logika dari jawaban, serta dengan menanyakan lebih jauh lagi, sehingga para siswanya terlatih untuk mampu memperjelas ide-ide mereka sendiri dan dapat mendefinisikan konsep-konsep yang mereka maksud dengan mendetail. Socrates sediri tidak pernah diketahui menuliskan buah pikirannya. Kebanyakan yang kita ketahui mengenai buah pikiran Socrates berasal dari catatan oleh Plato, Xenophone ( 430-357 ) SM, dan siswa-siswa lainnya. 

Socrates percaya bahwa pemerintahan yang ideal harus melibatkan orang-orang yang bijak, yang dipersiapkan dengan baik, dan mengatur kebaikan-kebaikan untuk masyarakat. Ia juga dikenang karena menjelaskan gagasan sistematis bagi pembelajaran mengenai keseimbangan alami lingkungan, yang kemudian akan mengarah pada perkembangan metode ilmu pengetahuan. Socrates percaya akan gagasan mengenai gaya tunggal dan transenden yang ada di balik pergerakan alam ini. Dengan demikian, Socrates memiliki pandangan yang bertentangan dengan kepercayaan umum masyarakat Yunani saat itu, yaitu kepercayaan pada kuil (oracle) dari dewa-dewa. Socrates sangat kritis dan selalu mempertanyakan tentang hakekat hidup manusia di bumi dengan pertanyaan apa dan mengapa. dia tokoh yang tidak mudah percaya terhadap kebenaran tanpa dia menyelidikinya lebih dalam. Socrates mengembangkan akal budi dan sikap kurang percaya terhadap segala sesuatu yang dianggap oleh orang banyak suatu kebenaran. dia selalu mempertanyakan tentang hakekat kebenaran. karena keingintahuannya inilah dia ditentang oleh kaum sofis dan penguasa di negaranya. 

Harus kita ketahui bahwa kaum sofis adalah sekelompok orang yang dianggap berpengetahuan dan berhak menentukan mana yang benar dan salah. Sedangkan kebeadaan Socrates ini yang selalu mempertanyakan hakekat kebenaran ini dianggap mengancam posisi kaum sofis sehingga kaum sofis menyimpulkan bahwa Socrates dianggap menyesatkan rakyat sehingga harus dihukum mati dengan cara meminum racun pada abad 399SM. Sanyangnya Socrates tidak meninggalkan tulisan apapun sehingga ajaran-ajarannya dapat dibaca melalui tulisan para muridnya seperi Plato. Kematian Socrates tidak berarti kematian ajaran-ajarannya. kematian dirinya justru menjadi awal kebangkitan ajaran-ajarannya di kalangan kaum muda Yunani Kuno. Plato adalah salah satu murid Socrates yang mempopulerkan ajaran-ajaran gurunya. Plato lahir pada tahun 428/7 sebelum masehi dari keluarga terkemuka di Athena, ayahnya bernama Ariston dan ibunya bernama Periktione. Ketika bapaknya meninggal ibunya menikah lagi dengan adik ayahnya Plato yang bernama Pyrilampes yang tidak lain adalah seorang politikus, dan Plato banyak terpengaruh dengan kehadiran pamannya ini. Plato sudah mulai memperkenalakan ajaran tentang negara. menurut Plato, negara ideal menganut prinsip mementingkan kebajikan yang menurut Plato adalah pengetahuan. Berangkat dari statement itulah Plato mengungkapkan bahwa pemimpin ang ideal adalah pemimpin yang berilmu pengetahuan yang pada saat itu disebut dengan filsuf sehingga dapat menempatkan benar dan salah pada tempatnya. 

Negara ideal menurut Plato juga didasarkan pada prinsip larangan kepemilikan pribadi baik dalam bentuk harta, keluarga, anak maupun istri. Hal ini dimaksudkan agar tidak tercipta egoisme yang akan menyebabkan erosif dan destruktif bagi negara dan penyebab utama disintegrasi. dengan hak atas kepemilikan pribadi menurutnya akan menciptakan kecemburuan dan kesenjangan sosial dan menjadikan setiap orang berusaha menumpuk kekayaan dan milik pribadi tanpa batas. Uang, anak, wanita adalah milik negara. anak yang baru lahir tidak perlu tahu siapa ayah dan ibunya. Dia dipelihara oleh negara dan digembleng dengan berbagai macam ketrampilan baik ilmu pengetahuan dan ilmu kemiliteran. Negara ideal menurut Plato tidak memperkenankan adanya lembaga perkawinan. tidak seorangpun boleh memiliki istri, istri adalah milik kolektif. Hal ini diakibatkan lembaga perkawinan telah menciptakan adaya pembedaan antara laki-laki dan perempuan. baik laki-laki maupun perempuan bagi Plato sama saja. karena jika dilatih hasilnya akan sama antara laki-laki dan perempuan. Plato sudah mengenalkan kesetaraan Gender meskipun masih bersifat primitif. semua pemikiran Plato yang anti individualisme ini bermuara pada pengabdiannya kepada Negara. kehancuran Athena menurut Plato bukan semata-mata karen faktor eksternal melainkan juga karena faktor internal yaitu perpecahan, disintegrasi dan disorientasi politik. sehingga pemerintahan yang ideal menurut Plato adalah sistem kenegaraan yang otoriter. 

Tokoh yang ketiga adalah Aristoteles yang merupakan murid dari Plato yang pemikirannya merupakan suatu bentuk pemberontakan terhadap gagasan Plato. Aristoteles lahir di Stagira, kota di wilayah Chalcidice, Thracia, Yunani (dahulunya termasuk wilayah Makedonia Tengah) tahun 384 SM. Ayahnya adalah tabib pribadi Raja Amyntas dari Makedonia. Pada usia 17 tahun, Aristoteles bergabung menjadi murid Plato. Belakangan ia meningkat menjadi guru di Akademi Plato di Athena selama 20 tahun. Aristoteles meninggalkan akademi tersebut setelah Plato meninggal, dan menjadi guru bagi Alexander dari Makedonia. Saat Alexander berkuasa di tahun 336 SM, ia kembali ke Athena. Dengan dukungan dan bantuan dari Alexander, ia kemudian mendirikan akademinya sendiri yang diberi nama Lyceum, yang dipimpinnya sampai tahun 323 SM. 

Menurut Aristoteles manusia adalah Zoon Politicon atau mahluk yang berpolitik. Aristoteles menganalogikan negara seperti organisme tubuh. Negara lahir dalam bentuknya yang sederhana kemudian berkembang menjadi kuat dan dewasa setelah itu hancur dan tenggelam dalam sejarah. Negara terdiri dari berbagai komponen-komponen, dari kumpulan keluarga, desa-desa dan persekutuan-persekutuan yang akhirnya membentuk suatu negara. terbentuknya negara karena interaksi manusia yang saling membutuhkan. Mengenai ukuran negara hendaknya jangan terlalu kecil karen kan mudah diserang dan dihancurkan oleh negara lain dan jangan terlalu luas karena akan menyebabkan kesulitan mengkoordinasikan. Negara menurut aristoteles memiliki tujuan mulia yaitu mensejahterakan seluruh warganegara. Aristoteles membenarkan adanya hak milik individu. Hak milik menjadi penting karena memberikan tanggungjawab bagi seseorang untuk mempertahankan kelangsungan hidup sosial. Sehingga ada keinginan mempertahankan kekayaan dari serangan luar yang membuat secara tidak langsung rakyat juga memikirkan keamanan negara demi kelangsungan hidup mereka. Lembaga perkawinan diperlukan untuk melindungi kaum wanita dari kejahatan laki-laki. Karena bagi Plato perempuan atau wanita merupakan mahluk yang tidak sempurna dan memiliki banyak kelemahan sehingga harus dilindungi melalui lembaga perkawinan. Aristoteles adalah tokoh yang mulai memperkenalkan beberapa bentuk negara yaitu Monarkhi dengan bentuk buruknya Tirani, Aristokrasi dengan bentuk buruknya Oligarki dan Politea dengan bentuk buruknya Demokrasi. 

Daftar Pustaka
Suhelmi, Akhmad,  2007, Pemikiran Politik Barat, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.
http://masadmasrur.blog.co.uk/2008/11/27/socrates-plato-dan-aristoteles-5119740/
http://id.wikipedia.org/wiki/Socrates

Sumber Gambar
prisgiace.blogspot.com


[1] Staf Pengajar Ilmu Politik  FISIP Universitas Siliwangi, Tasikmalaya.