Showing posts with label Politik Islam. Show all posts
Showing posts with label Politik Islam. Show all posts

Kenapa Umat Islam Kalah?

 Oleh : Hendra Gunawan
(Dosen Ilmu Politik FISIP Universitas Siliwangi Tasikmalaya)
 
Tema tentang politik Islam sesungguhnya telah setua umur Islam itu sendiri, tetapi pembahasan tentangnya selalu saja menarik. Hal ini terkait banyak hal. Antara lain adalah bahwa politik selalu berkonotasi negatif, sedangkan Islam berusaha memberikan warna positif terhadapnya. Praktek politik Islam itu untuk pertama kalinya ditauladankan oleh Rasulullah SAW. lewat masyarakat Madinah yang secara bahu-membahu mengisi kehidupan mereka sehari-hari. Sehingga dari pembinaan ini lahirlah masyarakat Islam yang menawarkan kejujuran, keadilan, kesederhanaan dan kearifan dalam mengisi kehidupan ini.

Bahkan keadilan itu begitu terlihat pada pimpinan tertinggi masyarakat Islam, yaitu Nabi sendiri. Ini tergambar jelas pada detik-detik terakhir kehidupannya Rasulullah Saw yang masih meminta para sahabat untuk membuat perhitungan darah dengan para sahabatnya. Hal ini Nabi Saw lakukan adalah demi sebuah prinsip keadilan . Karena kata nabi kehancuran umat manusia itu terjadi karena jika orang kecil melakukan kesalahan maka hukum akan ditegakan. Akan tetapi jika yang melakukan kejahatan itu orang besar, maka hukum tidak ditegakan.

Lebih jauh dari itu, Islam merupakan agama rahmat yang akan membawa kebahagian hidup di dunia maupun di akherat kelak. Oleh karena itu islam mengatur segi kehidupan ini dari hal-hal yang kecil sampai kepada hal yang paling penting. Peraturan itu menyangkut hubungan manusia dengan manusia, manusia dengan mahkluk Allah lainnya, seperti hewan, tumbuhan, dan alam semesta secara keseluruhan, dan individu manusia dengan sekelompok manusia maupun manusia sebagai mahkluk sosial secara keseluruhan. Begitulah kira-kira yang diyakini oleh seluruh umat Islam dari masyrik sampai maghrib.

Jika diterapkan dengan kafah aturan Islam ini maka negeri yang gemah ripah loh jinawi seperti Indonesia akan semakin makmur dan sejahtera. Akan tetapi kenyataan berbicara lain. Kebodohan, kemiskinan, keterbelakangan dan seabreg permasalahan lain yang melanda dan menghantui dunia Islam saat ini. Jelas kenyataan ini berbanding terbalik dengan  masyarakat Islam periode pertama. Banyak analisis dari para pakar Islam terhadap fenomena keterbelakangan umat islam dewasa ini. Para pakar tersebut berbicara dan menganalisis sesuai dengan keahliannya masing-masing.

Akan tetapi yang menjadi permasalahan dari semua itu adalah umat belum juga keluar dari kubang kenistaannya itu.  Malah sebaliknya. Umat makin terpuruk dengan dirinya sendiri. Apa yang terjadi dengan analisis para pakar tersebut? Apakah analisis mereka itu kurang tepat atau belum menyentuh “akar” terpenting dari keterpurukannya itu? Ataukah hasil maupun rekomendasi dari analisis pakar itu kurang mendapat perhatian dari umat Islam itu senidiri. Padahal analisis mereka itu berasal dari berbagai permasalahan dewasa ini, mulai dari masalah Politik, ekonomi, dan budaya tidak pernah luput dari analisis mereka. Dalam berpolitik misalnya, umat islam perlu memperkuat posisi mereka lewat pembentukan partai politik yang mengusung tema keIslaman. Dan hal itu telah mereka (umat Islam) lakukan. Umat Islam, entah itu dari masa berbasis Islam ataupun dari organisasi keIslaman sudah banyak melahirkan partai politik berkelas nasional maupun internasional. Hal ini bertujuan untuk membuat posisi umat Islam kuat ketika berhadapan dengan Negara. Akan tetapi masalah belum juga selesai. Dari masalah ekonomi, umat sudah banyak melakukan perubahan-perubahan, misalnya dengan semakin berkembangnya bank-bank syariah dan gadai syariah. Akan tetapi masalah belum juga selesai. Dari masalah budaya, perjuangan umat untuk mengentaskan keterpurukannya juga tidak kalah hebatnya. Bahkan mereka rela “menukar” identitas keislaman mereka dengan menyerupai kehidupan modern hanya karena ingin keluar dari keterbelakangan hidup. Hal itu mereka lakukan demi sebuah pembebasan belenggu keterpurukan. Akan tetapi masalah belum juga selesai. Kebodohan, kemiskinan, keterbelakangan masih melekat erat dalam kehidupan kaum muslimin di dunia umumnya dan di Indonesia khususnya.

Apa penyebabnya yang paling penting? Kalau kita menengok sebentar kebelakang, ketika kita membuka kembali “lembaran” perjalanan sejarah umat Islam sejak zaman nabi dan empat khalifah sesudanya SAW (dan kehidupan zaman sahabat tentunya), akan segera diketahui oleh kita rahasia keberhasilan umat Islam yang dibina oleh nabi itu terletak pada kekuatan iman yang tangguh dan kepercayaan kepada kebenaran risalah yang dibawa oleh Nabi SAW. Sudah menjadi keyakinan bersama umat Islam bahwa zaman nabi merupakan zaman terbaik yang pernah lahir kedunia. Meskipun jumlah mereka sedikit bila dibandingkan dengan jumlah penganut paganism waktu itu, namun mereka dengan sangat gemilang dapat menaklukannya hanya dalam kurun waktu kurang lebih 10 tahun saja.

Fenomena menarik yang dapat diambil pelajaran dari perjalanan sejarah Nabi SAW dan pada sahabatnya adalah fenomena iman. Tulisan pada bagian pertama ini akan difokuskan pada analisis iman yang merupakan fondasi utama dari sebuah bangunan yang akan dibangun (masyarakat Islam). Ibarat sebuah rumah, pertama-tama yang perlu dibangun dan medapat perhatian lebih dari pembangunan itu adalah fondasinya. Oleh karena hal itu akan menentukan kuat tidaknya bangunan tersebut untuk jangka waktu yang panjang. Begitu juga dengan masyarakat islam yang dibangun oleh Nabi SAW. Bangunan pertama yang diterapkan di Madinah. kepada masyarakat Islam generasi pertama adalah bangunan iman. Bahkan pembangunan iman ini memakan waktu lebih lama dan mendapat perhatian utama dari Nabi disamping membanguan kehidupan social. Faktor iman inilah menurut penulis yang sangat diabaikan oleh para pakar Islam di belahan dunia Indonesia dalam analisisnya. Padahal factor ini yang menurut penulis sangat penting untuk mendapat perhatian lebih dari ulama Islam dewasa ini.

Sejarah mencatat bahwa selama 13 tahun lamanya Muhammad SAW menyebarkan iman kepada penduduk kota Mekkah. Namun dari sekian lamanya hanya beberapa ratus orang saja yang bersedia untuk mengikuti ajaran beliau ini. Kenapa ini sulit dilakukan sehingga orang yang mengikuti beliau saat itu hanya beberapa orang saja dari penduduk Mekkah? Mari kita lihat. Dalam Islam konsep iman menduduki urutan paling utama dan didalamnya terdapat keimanan kepada Allah SWT sekaligus juga keimanan kepada para nabi dan Rasul utusan-Nya. Konsekuensi dari iman seseorang ini adalah adanya kesanggupan diri untuk tunduk patuh pada setiap aturan yang dikeluarkan oleh Allah SWT. Salah satu aturan yang paling prinsip adalah tunduk pula kepada Nabi-nabi yang diutus kepada mereka. Banyak ayat Al Quran yang menyatakan hal ini.

Satu paket ketaatan yang mutlak ini (taat kepada Allah dan Rasul-Nya) akan mengantarkan seseorang kepada pelepasan keangkuahan yang disebabkan olah atribut kekuasaannya, baik itu kekuasan politik kekuasaan ekonomi maupun kekuasaan akan keagungan diri. Dengan pernyataan bahwa seseorang itu telah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya maka dengan sendirinya dia harus mengakui bahwa tidak ada yang lebih besar selain dari Kebesaran-Nya, tiada yang lebih Agung selain Keagungannya, tiada yang lebih mulia selain Kemuliaan-Nya, selain itu dia juga harus mengakui derajat kemanusiaannya itu merupakan derajat yang egaliter, artinya dia harus mengakui bahwa tidak ada perbedaan antara yang miskin dengan yang kaya. Tidak ada perbedaaan antara jelek dan gagah. Tidak ada perbedaaan antara Arab dan bukan Arab. Tidak ada perbedaaan antara hitam dan putih. Dan seterusnya. Satu-satunya pembeda diantara mereka adalah ketakwaannya kepada Allah SWT.  Inilah barangkali yang membuat tokoh-tokoh Quraisy pada waktu itu enggan bahkan mencemoohkan ajakan nabi SAW. Karena jika mereka mengikuti ajakan iman nabi itu maka dengan sendirinya mereka juga harus mengakui persamaan derajat hidup dengan kaum dhuafa di sekitar kota Mekkah. Hal inilah yang tidak mereka inginkan.

Apa hubungan antara fenomena keterpurukan umat Islam dewasa ini dengan pejuangan nabi mengemban misi iman? Mari kita Lihat kembali. Banyak kelompok ataupun partai politik yang mengusung ideology Islam sebagai basis perjuangannya, dari mulai partai politk Islam moderat sampai ke partai politk islam klasik ikut andil dalam perjuangan pembebasan belenggu keterpurukan umat Islam Indonesia. Sebut saja misalnya PPP, PBB, PKS, PKB dan PAN. Semua partai tersebut mempunyai idiologi dan masa yang sama, yaitu Islam. Sekali lagi,, ISLAM. Akan tetapi kemenangan bagi kelompok umat Islam di Indonesia seakan menjadi sebuah fatamorgana yang tidak pernah nyata. Dari mulai pemilu 1955 sampai pemilu 2009 kekalahan demi kekalahan selalu mendera umat ini. Padahal niat dari semua partai politik Islam itu adalah untuk menolong agama Allah, Islam. Tapi apa yang terjadi? Padahal Allah telah menyatakan didalamAl Quran bahwa siapa yang menolong agama Allah maka Dia juga pasti akan menolong orang itu . Akan tetapi pertolongan Al Hak itu tidak juga kunjung tiba. Padahal umat telah berjuang kurang lebih 64 tahun (1945-2009) untuk membuat Islam jaya di Indonesia ini. Pasti ada yang salah dengan system perjuangan kita dalam mengemban misi Islam. Mari kita renungkan! Ada satu prinsip dasar perjuangan yang dikembangkan oleh Nabi Saw di Mekkah maupun di Madinah yang oleh para peneliti tentang Islam politik di  Indoneisa terabaikan dan belum pernah sama sekali dibahas. Dan disini kita akan membicarakan prinsip dasar itu secara sekilas.

Dalam Islam seperti yang saya jelaskan sekilas di depan mempunyai dua prinsip penting yang memang tidak bisa dipisahkan. Iman kepada Allah dan iman kepada Rasulnya, disamping iman kepada Malaikat, Kitab-kitab yang diturunkan, hari Kiamat, dan Qoda Qodar –Nya, akan mendapat perhatian lebih dalam bahsan ini. Untuk yang disebut pertama (Iman kepada Allah SWT), atau yang biasa disebut tauhid mempuyai tiga indicator yang sudah menjadi satu kesatuan utuh. Tauhid Rububiyah, tauhid Uluhiyah, dan tauhid Asma dan sifat. Pertama tauhid rububiyah. Ini artinya bahwa seseorang harus mempunyai I’tikad yang kuat bahwa hanya Allah sajalah Tuhan yang berhak disembah. Tidak ada tuhan selain Dia. Tidak boleh seorang hamba mencampurkan antara penyembahan Allah dengan penyembahan kepada makhluk. Kedua, tauhid uluhiyah. Dalam hal ini seseorang harus percaya bahwa hanya Allah sajalah sang Pencipta. Tidak ada sekutu bagi Dia dalam hal penciptaan. Ketiga adalah tauhid Asma dan sifat. Dalam hal ini seorang muslim harus mempercayai dengan sepenuh hati bahwa Allah mempunyai nama-nama dan sifat, yang sesuai dengan keagungan-Nya, yang telah dijelaskan oleh Allah dan Rasulnya melalui hadist sahih.

Konsekkuensi logis dari keimanan seseorang secara sangat sederhana adalah begini: dia harus meridhoi bahwa Allah sebagai tuhannya, Muhammad Saw sebagai nabinya, Al Quran sebagai kitabnya, dan Islam sebagai agamanya. Artinya yang lebih luas disini adalah apabila Rasulullah Saw telah menetapkan dan menjelaskan kepada kita satu masalah, maka sudah seharusnya seorang muslim dengan ketundukan dan kepatuhan yang sempurna mentaatinya. Sehingga ia lebih mengutamakan Rasul daripada dirinya sendiri. Hanya mencari hidayah dari sabda-sabda beliau. Hanya berhukum kepada beliau. Tidak rela berhukum kepada selain beliau. Baik dalam masalah asma dan sifat Allah dan tidak pula dalam masalah hakekat keimanan dan tingkatan-tingkatannya. Tidak pula dalam masalah hukum yang lahir maupun yang batin. Ia tidak rela berhukum kepada selain beliau.

Adapun meridoi Islam sebagai Agamanya adalah jika Islam telah berkata, menghukumi, memerintah, atau melarang maka ia ridho selapang-lapangnya. Tidak tersisa didalam hatinya rasa keberatan terhadap hukumnya. Dan menerima secara bulat. Meskipun itu bertentangan dengan dirinya dan kemauan hawa nafsunya. Atau bertentangan dengan perkataan orang yang diikutinya, gurunya atau kelompoknya . Karena hanya dengan prinsip inilah jalan keselamatan akan diraih.  Seorang muslim harus mempunyai keyakinan yang kokoh tentang hal ini. Dan perlu diketahui oleh siding pembaca yang beriman, bahwa memang jalan keselamatan itu hanya satu. Tidak bercabang. Allah berfirman:
“Mereka itulah golongan Allah. Ketahilah,bahwa sesungguhya golongan Allah itulah golongan yang beruntung” (QS. 58: 22)
Diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud ra ia berkata “suatu hari Rasulullah menarik garis lurus kemudian berkata: “ini adalah jalan Allah”. Kemudian menarik garis ke kanan dan ke kiri dari garis lurus itu, kemudian berkata lagi:”ini adalah jalan-jalan lain. Dipangkal setiap jalan tersebut terdapat setan yang mengajak kepadanya”. Kemudian beliau membaca ayat:” dan (bahwa yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan yang lain, karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya” (QS 6: 153).

Dari hadist tersebut dengan gamblang dapat diketahui bahwa jalan kebenaran itu hanya satu. Tidak ada jalan lain selain jalan yang telah Rasulullah tetapkan. Masalahnya sekarang adalah manakah jalan yang lurus itu? Jalan yang telah mendapat “stempel” dari Rasulullah Saw? Pertanyaan ini penting untuk diajukan mengingat kelompok Islam ataupun Partai politik berbasis Islam (dan berideologi Islam tentunya) mengaku berlandaskan pada Al Quran dan Sunnah Saw. Dimana telah diketahui oleh kelompok Islam semua bahwa jalan keselamatan itu adalah jalan yang didalamnya ada pedoman Quran dan sunnahnya. Akan tetapi, logika sederhana dari itu semua adalah kenapa tiap kelompok selalu berbeda-beda prinsip maupun prakteknya? Bukankah dasar pedoman mereka sama, yaitu Quran dan Sunnah Saw. Ada apa sesungguhnya dengan umat Islam ini? Semua mengaku berhukum dengan hukum quran dan sunnah, akan tetapi semua berbeda? Ada apa dengan umat Islam ini? Pasti ada yang kurang dengan pedoman mereka itu.

Menurut penulis faktor yang membuat mereka berbeda itu adalah kelalaian mereka terhadap factor yang yang ketiga, yang mana hal itu disebutkan juga dalam Al Quran dan Assunnah, yaitu pemahaman al quran dan sunnah berdasarkan pemahaman salafus saleh. Factor inilah yang membuat mereka berbeda-beda dalam memahami al Quran dan Sunnah Saw. Kenapa factor ini? Karena, sebagaimana kita ketahui bahwa metode manusia dalam memahami keduanya (Al Quran dan sunnah) berbeda-beda, ada yang benar dan ada yang salah sehingga menimbulkan fenomena seperti sekarang ini (umat berbeda-beda). Dan seandainya cara memahami sunnah sesuai dengan pemahaman para sahabat nabi, niscaya perbedaan itu akan hilang dengan sendirinya. Para sahabat adalah mereka yang mengetahui betul tafsir shahih tentang Al Quran dan maksud dari sebuah ayat, juga paling mengetahui sunnah-sunah nabi Saw. oleh karena itu setiap orang yang paling mengetahui kebenaran dan berkomitmen untuk mengikutinya tentu paling berhak berada diatas shirathal mustaqim. Sudah tidak diragukan lagi bahwa yang paling berhak disifati demikian adalah para sahabat nabi saw ketimbang kaum Rhafidhah. Sebagaimana dikatakan oleh sahabat mulia Ibnu Mas’ud ra ketika dia berkata:

“barangsiapa diantara kamu ingin mengikuti sunah (Nabi Saw), maka ikutilah sunnah orang-orang yang telah meninggal (para sahabat). Karena orang yang masih hidup tidak ada jaminan selamat dari fitnah (kesesatan). Mereka adalah sahabat Muhammad Saw. Mereka adalah generasi terbaik umat ini. Generasi yang paling baik hatinya, yang paling dalam ilmunya, yang tidak banyak mengada-ngada, kaum yang telah dipilih oleh Allah SWT untuk menjadi sahabat Nabi-Nya dalam menegakan agama-Nya. Kenalilah keutamaan mereka, ikutilah jejak mereka, perpegang teguhlah dengan akhlak dan agama mereka semampu kamu. Karena mereka adalah generasi yang berada di atas shirathal Mustaqim” . Beliau juga melanjutkan dengan perkataan : “Sesungguhnya Allah SWT melihat hati para hamba-Nya. Dan Allah melihat hati Muhammad Saw adalah sebaik-baik hati hamba-Nya. Allah memilihnya untuk dirinya dan mengutusnya dengan membawa risalah-Nya. Kemudian Allah melihat hati para hamaba setelah Muhammad Saw. Allah dapati hati sahabat-sahabat adalah sebaik-baik hati para hamba. Maka Allah mengangkat mereka sebagai wazir (pembantu) nabi-Nya, berperang demi membela agama-Nya. Maka apa-apa yang dipandang baik oleh kaum muslimin (sahabat Nabi Saw) pasti baik di sisi Allah SWT. Dan apa-apa yang dipandang buruk oleh mereka buruk juga di sisi Allah".

Oleh karena itu langkah terbaik untuk menyatukan perbedaan ini adalah dengan meneladani generasi terbaik umat ini dalam memahami Al Quran dan Sunnah Nabi Saw. Tidak akan tersesat umat Islam selama berpedoman pada jejak sahabat dala memahami Al Quran dan Sunnah Nabi Saw.

Dalam hal ini bukan maksud saya untuk menghakimi bahwa tidak boleh menggunakan akal dalam agama. Bukan pula maksud saya untuk menentang tiap metodologi dalam memahami Al Quran dan Assunnah. Akan tetapi hendaknya tiap orang muslim mendahulukan agama dari dirinya sendiri. Dan mengikuti keteladanan para sahabat merupakan agama, dan ini diperintah Allah SWT. Harus diingat selalu oleh tiap muslim, apabila Allah, Rasulullah, dan Islam telah berkata maka pantang bagi dia untuk membuat pilihan diluar yang telah ditetapkan itu.

Kembali kepada faktor yang ketiga itu. Surat Al Fatihah secara gamblang telah menjelaskan pula kepada kita factor yang ketiga itu. Tunjukilah kami jalan yang lurus. Ayat ini mencakup factor pertama dan kedua yaitu Al Quran da Assunah, sebagaimana telah dijelaskan diatas. Dan firman Allah selanjutnya: “(yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka” . Ayat ini mencakup factor ketiga tersebut. Yaitu merujuk kepada pemahaman salafus saleh dalam meniti jalan yang lurus itu . Bagi umat Muhammad yang telah dan akan mendapatkan kerihaan dari Allah maka itu disebabkan karena mereka mengikuti para sahabat dalam memahami Al Quran dan Sunnah Saw. Allah SWT berfirman didalam Al Quran:
“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah” (QS, 9: 100).

Akulturasi Budaya Politik Islam Lokal (Studi Perbandingan Islam di India, Afrika, Indonesia, dan Balkan)

Oleh : Akhmad Satori[1]

A.   Pendahuluan
            Akulturasi dan Asimilasi budaya merupakan sebuah keniscayaan.  Tak ada satu bangsa dan budaya pun yang terhindar dari proses tersebut. Kemajuan suatu bangsa bahkan tergantung kepada sejauh mana ia mampu meminjam, menyerap, dan mengambil alih berbagai unsur positif budaya lain, untuk kemudian mengintegrasikannya secara kreatif ke dalam arus dinamika budayanya sendiri[2]
          Proses akulturasi dan asimilasi budaya ini sangat mencolok di awal pertumbuhan peradaban Islam (abad ke-8 sampai ke-10).  Saat itu, hubungan intelektual antara dunia Islam dan dunia sekitarnya tampak lancar, akrab, dan kukuh.  Al-Qur’an mendorong umat Islam generasi awal untuk menimba, mengambil alih dan memanfaatkan khasanah intelektual budaya dan peradaban yang mendahuluainya.
            Kebudayaan Islam membawa pengaruh terhadap kebudayaan lain yang disinggahinya, dari masa kemasa dari satu kawasan kekawasan lainnya, Islam smemberikan corak tersendiri terhadap warna budaya lokal. Kekayaan Intelektual, dan hasil arsitektur budaya tersebut melekat ketat dengan kultur Islam sehingga menghasilkan berbagai macam karya seni yang tidak ternilai hargannya.  Pranata-pranata sosial dan institusi kelembagaan juga tidak lepas dari pengaruh Islam, bahkan tradisi, adat serta bahasa juga sangat terpengaruh dengan kebudayaan Islam.
            Islam dengan wujud dan formasi keagamaannya tidak mungkin memisahkan diri dan menolak budaya local dimana Islam itu singgah, meletakan binner antara Islam dengan budaya lokal, berarti memisahkan kehendak untuk disingkirkan oleh kelompok besar yang meyakini akan terciptanya akulturasi budaya Islam dan budaya lain[3]. Dalam Islam nilai-nilai universal seperti keadilan, persamaan, dan kemanusiaan mendapatkan porsi yang luas.  Dalam konteks Islam di Indonesia misalnya, Islam masa awal mampu bersimbiosis dengan budaya lokal yang sudah barang tentu pula mengedepankan prinsip-prinsip yang sama.  Titik temu ini selanjutnya dikemas dalam format dakwah yang tidak melulu mendudukan masyarakat lokal sebagai tertuduh dan salah, akan tetapi mereka berangkat dari kekayaan dan pengetahuan yang dimilikinya.[4]
Tulisan ini berupaya untuk memberikan gambaran mengenai bagaimana proses akulturasi yang terjadi antara Islam dan kebudayaan-kebudayaan lain dan sejauhmana kebudayaan Islam berpengaruh terhadap kebudayaan lokal tersebut  Adapun fokus tulisan ini studi perbandingan antara adalah kebudayaan India, Afrika , Indonesia dan  kebudayaan Balkan.

B.  Akulturasi Islam dengan Budaya Lokal
            Islam adalah agama yang bersifat universal dan berlaku disetiap zaman dan tempat.  Dalam penyebarannya Islam menghadapi sistem nilai yang beragam.  Namun akomodasi kultural melalui proses akulturasi dan asimilasi memperlihatkan interaksi yang cukup intens antara agama yang bersifat universal dengan nilai, norma, serta praktek sosial yang bersifat lokal.  Islam tidak hanya mempertimbangkan tradisi tersebut dalam proses penyebarannya, tetapi juga telah melakukan berbagai proses pembaruan dengan pembentuk tradisi baru. 
            Sejarah mencatat bahwa proses akomodasi Islam berlangsung secara berbeda-beda di tempat yang berbeda dan ditentukan oleh cara pendekatan  para penyiar Islam dalam memperkenalkan agama ini.  Bagaimana mereka memahami tradisi lokal agar strategi Islamisasi dapat terlaksana.  Hal ini kemudian sangat berhubungan dengan tiga prakondisi yang penting, pertama, bagaimana proses masuknya Islam ke daerah tersebut, kedua, bagaimana strategi Islamisasi itu dijalankan, dan terakhir sejauh mana kebudayaan ini menrespon dan menyerap kebudayaan Islam.  Berikut ini akan di gambarkan studi mengenai proses akulturasi tersebut di beberapa tempat, seperti India, Afrika, Indonesia dan Balkan.

1.   Perkembangan Kebudayaan Islam di India
a.  Masuknya Islam di India.
            Awal masuknya Islam ke India bisa di klasifikasikan menjadi dua  jalur ; yaitu, jalur formal dan jalur Informal.  Secara formal proses awal Islamisasi di India terbagi menjadi empat tahap.  Tahap pertama, pada zaman Nabi Muhammad, Islam menyebar melalui media pedagangan dan hanya sebagian kecil masyarakat India yang mendapatkan pengaruh ajaran Islam.  Tahap berikutnya, pada masa Umayyah, Islam dibawa pasukan Islam di bawah pimpinan Muhammad bin Qasim dengan cara penetration pacifique[5] dan berhasil membangun pranata sosial yang harmonis dan mulai terjalin asimilasi peradaban antara arab dengan India.  Tahap ketiga semasa dinasti Ghazni, Islam menyebar melalui penaklukan-penaklukan terutama dipimpin oleh sultan Mahmud dengan berbagai motif.  Ia melakukan tujuh belas kali penaklukan dan semuanya berhasil dimenangkan.  Tahap keempat, semasa Dinasti Ghuri (Muhammad Ghuri), Islam mulai berkuasa secara permanen. [6]
            Selain secara formal melalui aktivitas penaklukan dan ekspansi, Islamisasi yang terjadi di India juga dilakukan melalui jalur informal.  Ada tiga cara masuknya Islam ke India secara Informal yaitu perdagangan, perkawinan dan peranan sufi atau alim ulama, [7]
            Pertama, jalur Perdagangan.  Jauh sebelum Yunani mengenal India (utusan) orang-orang arab sudah memiliki hubungan yang erat dengan dunia timur.  Melalui media perdagangan mereka singgah ke pelbuhan India dengan membawa produk dari Asia Tengah, Afrika, bahkan dari Eropa.  Kemudian mereka menukar dengan komoditi-komoditi Timur di bandar-bandar tersebut.  Melalui perdagangan hubungan Arab India menjadi harmonis. [8]
Penaklukan Muhammad bin Qasim di India (Sind dan Mutan) menyebabkan semakin banyak orang-orang Arab yang menetap di sana dan melakukan perdagangan dengan orang-orang pribumi.  Menurut keterangan Varthema dan Barbosa yang mengunjngi India Timur (Bangladesh) pad awal abad ke XVI M bahwa mereka banyak menemukan pemukiman para pedagang Arab dan Persia.  Hal ini mengindikasikan adanya hubungan dengan Arab sejak sebelum terjadi penaklukan. [9]
Kedua, peranan Alim Ulama dan Sufi. Sejak pertama kali Islam masuk, ajaran Islam dibaw oleh para Ulama , Sufi dan pasukan –pasukan Islam dari Arab, Yaman, Persia, Turki dan Asia Tengah.  Pengaruh Islam sangat Besar terhadap kehidupan masyarakat.  Peranan ulama dan sufi dalam menyiarkan agama Islam di tanah India sangat besar yang ditunjukan dengan banyaknya jumlah mereka yang datang ke India.  Mereka ternasuk golongan pertama yang menyebarkan agama Islam sebelum Islam masuk ke India secara formal.  Ketika pemerintah Islam berkuasa di India peran mereka tidak berkurang bahkan semakin besar memjukan agama Islam di negeri itu.
Ketiga, lewat saluran Perkawinan.  Para ahli sejarah menentukan bahwa kaum muslim yang datang ke India, di samping membawa agama Islam, juga mempunyai kecakapn ilmu pengetahuan  pengobat yang mereka miliki.  Dari aktivitas ini banyak penduduk India yang tertarik kepada agama Islam dan banyak juga yang akhirnya menjalih hubungan perkawinan antara orang islam denganpenduduk setempat.
Bagian tersesar orang-orang India yang masuk aga ma Islam berasal dari kalangan umat Budha dan orang-orang Hindu kelas bawah yang bagi mereka kesederhanaan, persamaan, persaudaraan dalam agama, dan sistem sosial Islam sangat menarik bagi penyelamat dari penderitaan dan tirani oleh golongan Brahmana.  Meskipun demikian, tidak sedikit juga orang-orang Hindu dari kelas atas yang masuk Islam terutama melalui perkawianan dengan muslim.[10]

b. Hasil Akulturasi Islam dan Budaya Lokal
            Dalam bidang Ilmu pengetahuan, hubungan Islam dengan India terjalin dengan baik dan menjadi pertukaran budaya antara keduanya, banyak buku India yang diterjemahkan kedalam bahasa Arab pada abad ke-8.  Begitu pula dengan bidang seni dan bangunan.  Bangunan-bangunan yang didirikan oleh para Sultan India antara lain, Istana Kerajaan, Benteng, Mesjid, 0tugu orang-orang besar, perlindungan bagi orang-orang miskin.  Dalam rancangan bangunannya, merupakan campuran gaya Syiria, Bizantium, Mesir, dan Iran, sedangkan detailnya Hindu, Jaina atau Budha.  Perpaduan antara gaya Islam dan Hindu tersebut menghasilkan evolusi gaya yang kadang-kadang disebut Indo-Muslim, Arsitektur Indo-Muslim adalah arsitektur Muslim yang menampilkan detail sifat-sifat tertentu dari seni bangunan Hindu.  Semakin banyak ahli muslim yang memasuki India, maka pengaruh Hindu semakin berkurang sedikit demi sedikit.
            Bahasa juga merupakan salah satu aspek yang berubah, pada zaman Dinasti Ghaznawi dan Ghuri, para sultan berbahasa Turki di Istana, sedangkan di kantor berbahasa Persi.  Para tentara muslim , ketika berbelanja kepasar mengalami kesulitan berkomunikasi sengan masyarakat yang memakai bahasa parkit dan sansakerta, dan akhirnya menghasilkan bahasa baru yaitu Urdu sedangkan pengaruh bahasa sansakerta melahirkan bahasa Bangla.

2.   Perkembangan Kebudayaan Islam di Afrika
a.  Masuknya Islam ke Afrika
            Setelah Amru bin Ash membuka Mesir,  pada abad ke XI mulailah gerakan dakwah Islam dilancarkan dengan giatnya, hingga suku-suku penghuni padang pasir itu banyak memeluk Islam  dan banyak didirikan kerajaan-kerajaan dan pusat-pusat Islam yang besar yang telah memberi kesan dalam penyebaran Islam.  Perkembangan ini berjalan dengan pesatnya antara abad ke-11 dan ke-17 dengan medan utamanya Afrika selatan  dan selatan Sudan.  Dakwah Islam di afrika –terutama di kalangan bangsa-bangsa kulit hitam, terlebih lagi didaerah yang diairi sungai Senegal dan niger- dilakukan oleh golongan Barbar dari Afrika Utara.
            Penaklukan Afrika Utara merupakan suatu peristiwa penting bagi kekuasaan Muawiyah. Pada masa ini, Afrika ditaklukan oleh Uqabah, akan tetapi, orang-orang Islam mengalami Kemunduran yang hebat di Afrika ketika pada tahun 683 M, orang-orang Barber dibawah kepemimpinan Koselia bangkit memberontak dan mengalahkan Uqabah, yang bersama seluruh tentaranya tewas dalam pertempuran, namun setelah beberapakali peperangan  Khalifah Abdul Malik kembali menaklukan Afrika sekali lagi berada di bawah kekuasaan bani Umayyah.[11]

b.  Proses Islamisasi di Afrika
            Berbeda dengan  proses masuknya Islam di Mesir dan Afrika Utara,. pembentukan masyarakat Islam diAfrika sub-sahara sama dengan yang terjadi di Indonesia.  Sementara masyarakat Islam di timur tengan dan di Anak benua India terbentuk melalui penaklukan oleh ekspansi militer, maka Islam di Afrika tersebar luas melalui migrasi pedagang-pedagang Muslim, sejumlah guru dan pengkut sufi.
            Pada dasarnya umat Muslim merupakan kelompok minoritas yang terlindungi di tengah-tengah masyarakat non-muslim.  Biasanya mereka mengislamkan para penguasa lokal dan membentuk sebuah elit gabungan antara penguasa dengan pedagang muslim.[12]  Di beberapa wilayah lain di sub sahara Afrika, para pedagang, komunitas  patronalis (pengembala) dan pertanian, kelompok tentara dan para guru, memiliki peranan yang sangat penting dalam memperluas identitas Islam.[13] Mereka biasanya membangun persekutuan mulai dari ikatan kekeluargaan maupun jaringan perdagangan.  Dari sanalah para alim ulama dan wali menyelenggarakan pengajaran Islam dan memberikan pengabdian kepada pemimpin lokal.

c. Pengaruh Islam dalam Kebudayaan Afrika
            Di beberapa wilayah lain seperti di kawasan volta, biasanya pedagang-pedagang Muslim berintegrasi kedalam masyarakat umum dengan menikahi perempuan-perempuan setempat dan membentuk sejumlah keluarga.  Anak keturunan dari perkawinan tersebut biasanya mearisi kepemimpinan kesukuan dan menimbulkan proses pengislaman warga setempat.  Sejumlah perayaan hari besar diselenggarakan dengan penanggalan muslim tetapi didalamnya tidak mengandung corak keislaman yang jelas.[14]
            Islam juga telah tersebar melalui migrasi orang-orang Arab yang mendorong warga setempat menggunakan identitas Islam, dan mengembangkan sebuah kultur arab-afrika dalam bahasa, arsitektur dan busana.  Ibnu Batuta yang berkunjung ke Moghadisu (wilayah Afrika Timur) sekitar tahun 1332 M, menyaksikan kota-kota tersebut dalam kemakmuran dan kultur yang tinggi, ia menggambarkan wilayah itu sebagai komunitas muslim dengan sebuah madrasah dan ulama madzhab Syafi’I dan menyaksikan pengaruh Arab dalam seremoni kerajaan dan ritual-ritual lainnya.[15]

3.    Perkembangan Kebudayaan Islam di Indonesia
a.  Masuknya Islam di Indonesia    
            Sampai saat ini keterangan mengenai bagaimana masuknya Islam di Indonesia masih banyak diperdebatkan oleh kalangan ahli sejarah, sehingga sampai sekarang belum ada kata sepakan mengenai kapan sebenarnya Islam pertama kali masuk dan berkembang di Indonesia.  Namun bagaimanapun kebanyakan teori-teori tersebut menghubungkan kedatangan Islam ke Indonesia dengan perdagangan dan usaha-usaha menjelajah  lautan yang dilakukan oleh orang-orang Islam ke Asia Tenggara dan Asia Timur Raya.
            Teori kedatangan Islam ke Indonesia dapat diambil kesimpulan menjadi dua bagian.  Pertama, bahwa Agama Islam datang ke Indonesia melalui Persi dan Gujarat, dan yang kedua, mengatakan bahwa agama Islam itu datang langsung dari jazirah Arab ke Indonesia.[16]  Demikian pula dengan tahun kedatangan Islam itu, para ahli sejarah mempunyai pandangan yang berbeda-beda.  Sebagian mengatakan Islam datang ke Indonesia pada abad ke-7 dan sebagian lain berpendapat pada abad ke-13.[17] 

b.  Proses Islamisasi di Indonesia.
            Dalam kaitan ini, proses Islamisasi di kawasan Indonesia harus dilihat dari fase-fase kontak sosial budaya antara para penatang muslim dengan penduduk setempat[18]. Pertama, fase kehadiran para pedagang muslim di nusantara, kapal-kapal dagang Arab sudah mulai berlayar kewilayah Asia Tenggara sejak permulaan abad Masehi, hal ini didasarkan dari literature arab yang terdapat beritatentang perjalanan mereka ke Asia Tenggara.  Paul Whealty mengemukankan bahwa diantara penulis Arab hingga abad ke-14, hanya Abu Dulaf (abad ke-10) dan Ibnu Battuthah yang benar-benar melakukan perjalanan ke Asia Tenggara sampai ke negeri Cina, sedangkan penulis lain hanya berlayar hingga India atau sekitar teluk Persia.[19]
            Kedua, fase terbentuknya kerajaan Islam (13-16 M), kedatangan Islam ke Indonesia sejak abad ke-8 dan di samudra pasai pada abad ke-13 M muncul sebagai kerajaan yang bercorak Islam dan berkembang hingga awal abad ke-16 M.[20]   Sejak Kerajaan Samudera Pasai tumbuh dan berkembang, maka perkembangan Islam melalui fese Kerajaan semakin meluas, dari mulai kerajaan Malaka sampai ke kerajaan Demak pada masa-masa selanjutnya, Islam mengalami erkembangan yang sangat pesat. 
            Ketiga, fase pelembagaan Islam.   Pengaruh penyebaran Islam di  kerajaan Pasai meluas ke Aceh, Pesisir Sumatra, semenanjung Malaka, Demak, Gersik, Banjarmasin dan Lombok.  Ini terbukti dengan ditemukannya bentuk-bentuk makam disemenanjung Melayu, terutam,a batu nisannya, yang menyerupai nisan-nisan Aceh.  Daerh yang agak terlambat menerima penrkembangan Islam diluar daerah yang telah disebutkan, ialah Sulawesi, walaupun beberapa tempat seperti Buton dan Selayar serdasarkan tradisi setempat telah menerima pengaruh Islam dari Ternate.pada pertengahan abad ke-16. dengan demikian bisa dikatakan bahwa sejak permulaan abad ke-17, Islam telah dterima di hampir seluruh wilayah Nusantara.
            Dalam perkembangannya di Nusantara, Islam telah diterima dengan jalan damai.  Hampir tidak pernah ada ekspedisi militer untuk Islamisasi.  Cara yang ditempuh oleh para mubaligh Islam ialah dengan cara damai (ukhuwah Islamiyah), sehingga Islam dapat berkembang dihampir seluruh wilayah nusantara.

c.  Pengaruh Islam Terhadap Kebudayaan di Indonesia
Erat  dengan proses islamisasi maka orang-orang muslim dapat pula membentuk dan mendirikan pesantren-pesantren, madrasah-madrasah.  Melalui kelembagaan di masyarakat tersebut maka Islam dapat pula disebarkan dan dikembangkan kedaerah lingkungannya dan daerah-daerah diluarnya. Proses perkawinan antara pedagang muslim dengan anak-anak bangsawan Indonesia, juga dapat mempercepat pembentukan dan perkembangan Islam dari inti sosial yaitu keluarga hingga masyarakat lingkungannya.  Akibat perkawinan orang-orang Muslim dengan anak-anak bangsawan atau raja-raja maka proses penyebaran lebih dipercepat pula karena secara tidak langsung dalam pandangan masyarakat setempat orang muslim tersebut status sosialnya dipertinggi dengan sifat-sifat charisma bangsawan.  Lebih-lebih pedagang-pedagang besar itusetelah melakukan perkaeinan dengan anak bangsawan atau raja, kemudian diangkat dalam susunan birokrasi kerajaan, sebagai syahbandar, kadi atau jabatan-jabatan lainnya.
            Proses penyebaran Islam melalui saluran perdagangan dan perkawinan dengan pribumi ini jelas menguntungkan kedua belah pihak.  Bagi pedagang-pedagang Muslim merasa lebih produktif usahanya, karena selain mereka mudah dalam mendapatkan izin perdagangan juga memudahkan untuk lebih menyebarkan ajaran agama Islam kepada masyarakat.     Proses Islamisasi juga terjadi melalui pendekatan sosial budaya.  Unsur-unsur budaya setempat seperti bahasa, tulisan, arsitektur, kesenian juga diselaraskan dengan apa yang dimiliki oleh Islam.  Adat makeuta alam adalah hasil dari pengejawantahan antara adat Aceh dan Islam. 

4.   Perkembangan Kebudayaan Islam di Balkan

a.  Masuknya Islam ke daerah Balkan
Sejak abad ke-9 umat Islam telah mendatangi semenanjung Balkan, Eropa Timur.  Tetapi laut menjadi penghalang utama.  Keinginan ini baru terwujud secara formal pada abad ke-15  Ketika itu dinasti Usmani dipimpin oleh Murad II, namun ambisinya untuk menaklukan semenanjung Balkan terhalang oleh pasukan dari Hunggaria dan Hunayind.  Namun di bawah pimpinan Muhammad II Seorang sultan yang melakukan banyak penaklukan untuk masuk ke Eropa timur, dengan sejumlah kapal perang dinasti Usmani, ia berhasil menerobos pintu gerbang negara itu.
 Sultan Muhammad al-Fatih terlebih dahulu menaklukan konstatinopel (Istambul), kemudian tahun 1458–1460 M, ia berhasil menaklukan Athena dan daerah sekitarnya, lalu disusul dengan penaklukan Serbia tahun 1459 M dan Bosnia tahun 1463 M.  Para pemimpin dan rakyat Bosnia yang sebelumnya mendapatkan tekanan dari kelompok etnik serbia yang menganut kristen ortodok dan orang kroasia yang katolik kemudian memeluk agama Islam, bahkan selanjutnya memimpin perjuangan di perbatasan sebelah utara yang menjadi benteng pertahanan umat Islam di garis perbatasan.   Dengan takluknya daerah Eropa Timur ini, Islam pun tersebar di kalangan penduduk, bahkan sampai tahun 1994 M, di kawasan ini khususnya Bosnia Herzegovina, Islam merupakan agama yang dianut oleh mayoritas penduduknya.[21]
            Posisi geografis Balkan merupakan salah satu faktor utama dan yang membuka peluang pengenalan rakyat Balkan kepada agama Islam. Keberadaan kawasan Balkan diantara negara-negara Islam dan Romawi Kristen merupakan peluang pertama pengenalan rakyat di kawasan ini dengan umat Islam lewat perdagangan. Perdagangan kaum Iliri penduduk Balkan dengan umat Islam Arab, Persia dan Turki merupakan kesempatan kehadiran para pedagang muslim di kota-kota pelabuhan laut Adriatik bahkan ke kawasan yang lebih jauh dari pantai laut ini.
Kepingan uang emas dan perak Arab yang telah ditemukan oleh para arkeolog dan kisah perjalanan yang telah ditulis pada era ini membuktikan hal tersebut. Pada masa lalu transaksi jual beli merupakan tujuan pertama para pedagang. Para pedagang muslim telah ikut membawa budaya dan pandangan baru bersama mereka. Hal ini terjadi ketika sejumlah muslimin menempati kota-kota pelabuhan di kawasan Balkan dan dengan berlalunya zaman, jumlah mereka semakin bertambah dan meninggalkan pengaruh pada masyarakat setempat.[22] 
Kondisi politik dan agama yang dimiliki oleh rakyat Balkan, ikut memainkan peran dalam menarik mereka kepada agama Islam. Bangsa yang paling lama sekali tinggal di Balkan ialah kaum Iliri. Pada abad keenam dan ke-7 M, orang-orang Slowakia telah datang ke kawasan tersebut. Kedatangan orang-orang Slowakia ke Balkan dan upaya mereka untuk menegakkan agama Kristen telah menyebabkan timbulnya banyak pemberontakan dan peperangan. Sebagian besar dari bentrokan ini, lebih banyak diwarnai oleh sentimen keagamaan daripada sentiman etnis dan sebagai dampak dari pemaksaan agama Kristen. Selain itu  kondisi ekonomi yang buruk, tekanan agama dan perang yang tidak berkesudahan juga telah menjadi lahan penerimaan agama yang memiliki ajaran keadilan, persamaan, anti kezaliman dan yang berdasarkan keyakinan kepada keesaan Tuhan, yang tidak terdapat pada agama-agama lain.[23]

b.  Pengaruh Islam di Balkan
Sejarah Islam memasuki Balkan, banyak sekali mengalami distorsi, sehingga tergambarkan seolah-olah penduduk kawasan ini menerima Islam karena paksaan dan di bawah ancaman pedang para penguasa Utsmani. Di sebagian buku sejarah Eropa, kehadiran Islam di Balkan dikatakan sebagai hasil dari persaingan agama dan politik berbagai etnis yang tinggal di kawasan ini. Analisa tentang sejarah masuknya Islam ke daratan Eropa seperti ini, sebenarnya merupakan pengabaian peran nilai-nilai Islam yang mulia dan karya peradabannya yang sangat berharga dalam menarik bangsa Eropa Timur ini ke dalam agama Islam.  Sampai sekarang masih banyak peninggalan Islam yang terpelihara di wilayah ini.  Antara lain dua mesjid dengan arsitektur Turki yang sangat indah yaitu Mesjid Raya Husri Bek dengan menara yang menjulang ke angkasa dan Mesjid Begova[24]
Terdapat juga sebuah perpustakaan Islam dengan kekayaan Khazanah keislaman yang dimilikinya.  Perpustakaan ini pernah menjadi perpustakaan terbesar ketiga di Eropa.  Disana tersimpan tidak kurang dari 15 ribu manuskrip karya keislaman yang tertulis dengan bahasa Arab, Persia dan Turki -Ihya Ulumuddin karya al-Ghazali dan manuskrip karya penyair Persia Nuruddin Abdur Rahman- tersimpan dengan baik di perpustakaan ini.  Selain itu terdapat pula sebuah perguruan Tinggi Islam yang bernama Perguruan Ghazi Bek yang didirikan tahun 1537 M, dan merupakan salah satu perguruan tertua di Balkan dengan jumlah mahasiswa yang cukup banyak. [25]

C.  Perbandingan Akulturasi
            Dari uraian mengenai beberapa perkembangan kebudayaan Islam di beberapa daerah seperti yang di kemukakan diatas, dengan menggambarkan bagaimana jalur  masuknya Islam, proses Islamisasi dan pengaruhnya terhadap kebudayaan lokal, maka kiranya dapat kita komparasikan sebagai berikut:


Aspek Akulturasi
Akulturasi Kebudayaan Lokal dengan Islam
India
Afrika
Indonesia
Balkan

Masuknya Islam ke kawasan tsb.

50% dengan jalan damai dan 50% dengan Ekspansi

50% dengan jalan damai dan 50% dengan Ekspansi

100 % dengan jalan Damai

100% dengan Ekspansi militer

Saluran Islamisasi

Formal :
1.  Penaklukan,
2.  Penetration- Pacifique
Informal :
1.  Perdagangan,
2.  Mubaligh/Sufi
3.  Perkawinan

1.  Penaklukan
(Mesir dan Afrika Utara)
2.  Perkawinan
3.  Tasawuf
4.  Perdagangan
(Afrika Sub Sahara)
5.  Migrasi

1.  Perdagangan
2.  Perkawinan
3.  Tasawuf
4.  Pendidikan
5.  Kesenian
6.  Politik

1.  Penaklukan
2.  Tasawuf

Pengaruh Islam terhadap Budaya, Ilmu Pengetahuan, Kelembagaan, dan Seni Arsitektur
1.     Mesjid Agra.
2.     Bahasa Urdu,Bangla dll.
3.     Istana Kerajaan,
4.     Benteng Pertahanan, dll
1.        Tarekat-tarekat
2.        Ritual dengan penanggalan Islam
3.        Arsitektur Bangunan : Mesjid Qynawan
4.        Bahasa, dll.
5.   Bentuk Bangunan Mesjid,Mesjid Demak, dll
6.   Pesantren
7.   Tembang Para Wali
8.   Wayang,dll.
1.  Perguruan Tinggi Ghazi Bek,
2.  Perpustakaan,
3.  Mesjid Husri Bek,
4.  Mesjid Begove

Perkembangan Islam di beberapa wilayah diatas menunjukan bahwa Islam pada dasarnya masuk dan berkembang dengan cara damai.  Fakta sejarah  mrncatat bahwa ajaran Islam sebagai ajaran selalu disebarkan dengan cara damai[26] melalui jalan dakwah.  Tetapi sebagai kekuatan politik Islam tersebar baik dengan jalan damai maupun dengan jalam peperangan.  Walaupun Islam dapat menaklukan dan menguasai suatu daerah dengan jalan damai atau peperangan, penguasa Islam tidak memaksakan ajaran-ajaran Islam pada penduduknya.  Hal ini sesuai dengan prinsip dasar ajaran Islam yang tidak membenarkan adanya paksaan dalam agama.  Berdasarkan hal tersebut, di dalam Islam dikenal istilah ahl al-dzimmah (kaum dzimmi), yaitu penduduk non muslim yan berdiam di wilayah Islam.  Mereka di jamin hak-haknya dan diperlakukan sama dengan penduduk yang beragama Islam.
Banyaknya pengaruh Islam terhadap budaya, ilmu pengetahuan, kelembagaan, dan seni arsitektur membuktikan bahwa Islam mampu untuk berakulturasi secara sempurna dan akomodatif terhadap budaya lokal.  Islam lewat ajarannya memunculkan spirit pembebasan atas keterkungkungan masyarakat feudal yang telah ada sebelumnya.  Islam tidak lagi memandang perbedaan kasta, suku, dan warna kulit. Dengan prinsip-prinsip inilah Islam lambat laun dapat diterima dengan lapang dada oleh masyarakat lokal di mana Islam itu hadir.

D.  Penutup
Islam merupakan agama bangsa-bangsa yang tersebar di pertengahan bumi yang terbentang dari tepi laut Afrika sampai tepi laut Pasifik Selatan, dari padang rumput Siberia hingga ke Pelosok kepulauam Asia Tenggara yang terdiri dari; bangsa Berber, Afrika, Sudan, arab, Timur Tengah, Turki, Iran, Asia Tengah, Afghanistan, Pakistan, India, Cina, Indonesia, bahkan hingga dataran Eropa yang secara keseluruhan jumlah mereka mencapai satu setengah milyar lebih.  Dari sisi etnis, bahasa, budaya, sistem politik, adat, organisasi lokal serta pola kebudayaan dan tekhnologi, mereka menampilkan keberagaman kemanusiaan, namun Islam menyatukan mereka.
Nilai universalitas Islam, mampu bersanding secara akulturatif, sehingga mampu dijadikan spirit untuk menggapai kesejahteraan. Meskipun seringkali tidak menjadi totalitas kehidupan mereka, namun Islam terserap dalam konsep, aturan keseharian, memberikan tata ikatan kemasyarakatan, memenuhi hasrat mereka meraih kebahagiaan hidup.  Karena keberagaman tersebut, Islam berkembang menjadi keluarga terbesar ummat manusia.

Daftar Pustaka

Amin Abdullah, Penerjemahan Karya Klasik, dalam Ensiklopedi Tematis Dunia Islam, Pemikiran dan peradaban, Jakarta : PT. Ichtiar Baru Van Hoeve, 2005

Fachruddin, M. Fuad, Perkembangan Kebudayaan Islam, Jakarta : Penerbit Bulan Bintang, 1985.

Hasjmy, A, Sejarah Kebudayaan Islam, Jakarta : Penerbit bulan Bintang, 1995.

_________  , Sejarah Masuk dan Berkembangnya Islam di Indonesia : Kumpulan Prasaran Pada seminar di Aceh, Medan : Penerbit al-Ma’arif, 1993

Karim, M. Abdul, Sejarah Islam di India, Yogyakarta : Penerbit Bunga Grafis, 2003

_________       , Islam Nusantara, Yogyakarta : Pustaka Book publisher, 2007.

Lapidus, Ira M, Sejarah Sosial Ummat Islam, bagian Kesatu dan dua, Jakarta : Penerbit Grafindo Persada, 1999

_________ , Sejarah Sosial Ummat Islam, bagian Ketiga, Jakarta : Penerbit Grafindo Persada, 1999

Mahmuddunnasir, Syed, Islam Konsepsi dan Sejarahnya, Bandung : Penerbit Rosda Karya, 1991.

Mansur, Peradaban Islam dalam Lintasan Sejarah, Yogyakarta :  global Pustaka Utama, 2004

Sadjali, Munawwir, Islam dan Tata Negara : Ajaran, Sejarah derta Pemikiran, Jakarta : Penerbit Universitas Indonesia Press, (edisi kelima), 1993

_________  ,  Sejarah Peradaban Islam, Jakarta : PT Raja Grafindo Persada, 1993



[1] Ketua Program Studi Ilmu Politik Fisip Universitas Siliwangi
[2]Amin Abdullah, Penerjemahan Karya Klasik, dalam Ensiklopedi Tematis Dunia Islam, Pemikiran dan peradaban, (Jakarta : PT. Ichtiar Baru Van Hoeve,2005),hal.15
[3] Ahmad Syafii Maarif,  “Sublimitas Islam di Indonesia”,dalam pengantar buku Islam Nusantara karya M. Abdul Karim, (Yogyakarta Pustaka Book Publisher, 2007), hal. 5-6
[4] Ibid, hal 6s
[5] Penetration pacifique merupakan istilah untuk ekspansi yang dilakukan oleh Islam, dengan strategi penetrasi dan penaklukan wilayah-wilayah yang ada di sekitar lautan pasifique. 
[6] Karim, Sejarah Islam di India, (Yogyakarta : Penerbit Bunga Grafis, 2003),hal. 1
[7] Jalur Informal yang dimaksudkan adalah …menurut M. Abd. Karim, keterangan mengenai jalur formal hanya sedikit yang dapat diketahui. Ibid., hal. 6
[8] Edwin Arnold, India Revisited (Trubnerald.co, 1886) hal.41-53. lihat juga dalam M Abdul Karim, Sejarah Islam di India, (Yogyakarta : Penerbit Bunga Grafis, 2003),hal. 41
[9] Ibid., hal.42
[10] Ibid., hal 47
[11] Wilayah Afrika yang di sebut diatas adalah Mesir dan sebagian besar Afrika Utara,     mencakup libiya, serta wilayah-wilayah yang terbentang dari Aljazair hingga Maroko, yang dikenal orang-orang Arab sebagai “al-Maghribi” lihat dalam Syed Mahmudunnasir, Islam , konsepsi dan sejarahnya (Bandung : Penerbit Rosda Karya, 1991), hal. 313-314. 
[12] Lapidus, Ira M, Sejarah Sosial Ummat Islam, bagian Kesatu dan dua, (Jakarta : Penerbit Grafindo Persada, 1999) hal. 750
[13] Ibid, hal 766
[14] Ibid., hal 772
[15] Ibid., hal 810-811
[16] Tokoh-tokoh yang mengatakan bahwa Islam datang ke Indonesia melalui Parsi dan Gujarat , antara lain : C. Snouck Hurgronje, H.J. Vsn den Berg, Husein Djajadiningrat, H. Kraemer, dan lain-lain.  Sedangkan Groveneveld, Hamka, T.W. Arnold dan lain-lain mengatakan bahwa Islam datang ke Indonesia langsung dari Jajirah Arab. Lihat makalah Drs. M. Dien Majid, Islam di Aceh Tengah dan Kaitannya dengan Perlak dan Pasai, dalam A. Hasymy (ed), Sejarah Masuk dan Berkembangnya Islam di Indonesia : Kumpulan Prasaran Pada seminar di Aceh, (Medan : Penerbit al-Ma’arif, 1993)hal.471-472
[17] Ibid.,hal.472
[18] Hasan Muarif Ambary, Menemukan Peradaban : Jejak Arkeologis dan Historis Islam Indonesia, (Jakarta : Logos Wacana Ilmu, 1998) hal.55-61
[19] Ibid., hal.56
[20] Ibid., hal 57
[21] Nina Armando (Ed)  Sejarah Masuknya Islam dalam Ensiklopedi Islam Modern Jilid II (Jakarta : PT. Ichtiar Baru Van Hoeve, 2005), hal. 32.
[22] Lihat Kehadiran Islam di Balkan dalam Sirah Nabawiyah & Islam ( Redaksi 07 Jan 2005) dalam. www.google.com
[23] Ibid, www.google.com
[24] Ibid.,Nina, hal 33
[25] Ibid., hal.. 34
[26] Q.S. al-Baqarah : 256, “tidak ada paksaan untuk( memasuki) agama Islam”

Sumber Gambar Ilustrasi :
ristu-hasriandi.blogspot.com